Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Mengapa Tubuh Anda Butuh “Alarm’” Kesehatan? Yuk Kenali Pemeriksaan hs-CRP

Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan alami untuk melawan penyakit. Ketika terjadi gangguan, tubuh akan menyalakan “alarm” berupa peradangan. Salah satu komponen penting dalam proses ini adalah CRP (C-Reactive Protein), yaitu protein yang diproduksi oleh hati saat tubuh sedang melawan penyakit.
Peradangan bisa muncul karena berbagai penyebab, mulai dari cedera hingga infeksi. Ketika kuman masuk, sel-sel kekebalan tubuh akan memberi sinyal ke hati untuk menghasilkan lebih banyak CRP. Protein ini kemudian dilepaskan ke dalam darah sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.

Apa itu hs-CRP?

Salah satu metode pemeriksaan yang lebih sensitif untuk mendeteksi peradangan adalah hs-CRP (high-sensitivity C-Reactive Protein). Pemeriksaan ini mampu mendeteksi kadar CRP dengan tingkat kepekaan tinggi, bahkan dalam jumlah kecil, sehingga dapat membantu menemukan infeksi maupun penyakit autoimun sejak dini.  Selain itu, hs-CRP juga banyak digunakan secara internasional untuk menilai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Kadar hs-CRP yang sedikit meningkat dalam jangka panjang bisa menandakan adanya peradangan kronis yang berhubungan dengan risiko serangan jantung atau stroke.
Pemeriksaan hs-CRP dilakukan dengan mengambil sampel darah. Dengan tingkat kepekaan yang tinggi, tes ini dapat mendeteksi perubahan kecil dalam tubuh dan membantu mengidentifikasi adanya peradangan maupun infeksi disebabkan oleh bakteri atau virus.  Namun, hs-CRP bukan penentu tunggal suatu penyakit. Hasilnya tetap harus diinterpretasikan oleh dokter bersama pemeriksaan lain, karena kadar hs-CRP bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, hingga stres kronis.

Sebagai contoh, penelitian membandingkan pasien yang terkonfirmasi virus COVID-19 dengan pasien yang tidak terkonfirmasi. Pada pasien COVID-19, rata-rata kadar CRP tercatat sekitar 5 mg/L, sedangkan pada pasien yang tidak terinfeksi nilainya jauh lebih rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kadar CRP yang tinggi berhubungan dengan infeksi aktif dan tingkat keparahan penyakit, sehingga menjadi petunjuk penting bagi dokter untuk melakukan intervensi klinis sebelum kondisi pasien memburuk. Oleh karena itu, angka ini dapat sangat bervariasi tergantung kondisi spesifik pasien.

Peradangan Tidak Selalu Disebabkan Infeksi

Peradangan tidak selalu muncul disebabkan adanya infeksi. Dalam beberapa kondisi, sistem kekebalan tubuh justru mengalami peradangan akibat sistem kekebalan yang menyerang jaringan sehat, yang dikenal sebagai penyakit disebut autoimun. Contoh penyakit autoimun seperti lupus dan radang sendi.
Penyakit autoimun bersifat kronis, berlangsung seumur hidup, dan hingga kini belum ditemukan obat yang benar-benar menyembuhkan (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2022). Pada penderita autoimun kronis, kadar CRP juga cenderung meningkat meski tidak ada infeksi.
Mitos Fakta
Infeksi virus lebih ringan daripada infeksi bakteri. Ada infeksi virus yang bisa sangat berat (seperti COVID-19), sementara beberapa infeksi bakteri justru lebih ringan dan cepat sembuh.
Kadar CRP tinggi pasti berarti ada infeksi bakteri. Infeksi virus juga dapat meningkatkan kadar CRP, meskipun biasanya lebih rendah dibanding bakteri.
Peradangan hanya terjadi karena infeksi. Peradangan juga bisa muncul akibat autoimun, yaitu ketika sistem imun keliru menyerang tubuh sendiri. Kondisi ini membuat CRP tetap tinggi meski tidak ada infeksi.

Pentingnya Pemeriksaan hs-CRP

Pemeriksaan hs-CRP memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Deteksi Peradangan Tingkat Rendah
Pemeriksaan hs-CRP dapat mengukur peradangan sistemik tingkat rendah, bahkan ketika belum ada gejala yang jelas.
2. Stabilitas Pengukuran
Kadar CRP tidak cepat berubah dan stabil, sehingga lebih muda dipantau dari waktu ke waktu.
3. Akurasi dan Standarisasi
Pemeriksaan hs-CRP menggunakan teknologi laboratorium yang sangat sensitif, seperti imunonefelometri,  imunoturbidimetri, ELISA sensitivitas tinggi, atau resonant acoustic profiling (RAP). Alat ini bisa mendeteksi CRP dalam kadar sangat kecil (0,01–10 mg/L). Artinya, meskipun peradangannya masih ringan sekali, hs-CRP tetap bisa terbaca. Tes ini juga sudah distandarisasi secara internasional.
4. Waktu Penyelesaian Cepat
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan waktu penyelesaian singkat, sehingga hasil bisa segera digunakan untuk evaluasi medis.
Sekali lagi, perlu dipahami bahwa hs-CRP tidak dapat digunakan sendirian sebagai alat diagnosis. Tes ini hanya memberi sinyal adanya peradangan dan tetap harus digabungkan dengan pemeriksaan lain untuk menentukan penyebab pastinya.
Melihat peran penting dari pemeriksaan hs-CRP, sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama bagi yang memiliki risiko tinggi. Dengan melakukan pemeriksaan ini, peradangan dapat terdeteksi lebih awal, sehingga dokter bisa segera memberikan penanganan sebelum  terjadi komplikasi serius. Pemeriksaan hs-CRP bukan hanya soal pengobatan, tapi juga bagian dari pencegahan untuk menjaga kualitas hidup yang baik.
Sebelum melakukan pemeriksaan, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk memastikan manfaat, pemeriksaan penyerta lainnya, dan interpretasi hasil sesuai kondisi masing-masing.
 Jangan menunggu hingga infeksi atau peradangan parah. Lindungi kesehatan Anda sejak dini dengan melakukan pemeriksaan hs-CRP melalui Paket Promo Medical Check Up JANTUNGAN di Kimia Farma Laboratorium & Klinik selama periode 1-30 September 2025.
Dengan harga spesial hanya Rp. 590.000,- Anda akan mendapatkan pemeriksaan oleh tenaga medis berpengalaman dengan hasil cepat dan akurat. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang Anda untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga.
  • Cooper, J., Pastorello, Y., & Slevin, M. (2023, January 27). A meta-analysis investigating the relationship between inflammation in autoimmune disease, elevated CRP, and the risk of dementia. 14. https://doi.org/10.3389/fimmu.2023.1087571
  • Kamath, D. Y., Xavier, D., Sigamani, A., & Pais, P. (2024, January 15). High sensitivity C-reactive protein (hsCRP) & cardiovascular disease: An Indian perspective. DOI:10.4103/0971-5916.166582
  • National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2022). Enhancing NIH Research on Autoimmune Disease. https://nap.nationalacademies.org/read/26554/chapter/1
  • Taneja, M. (2024, Jult 19). What Infections Cause High CRP? Check Now. Redcliffe labs. https://redcliffelabs.com/myhealth/health/what-infections-cause-high-crp-check-now/
  • Widiastuti, R. (2023). Perbedaan Kadar C-reactive Protein (CRP) Antara Pasien Terkonfirmasi Covid-19 Dengan Pasien Tidak Terkonfirmasi Covid-19 Di Rsud Wonogiri. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/54808/19711113.pdf?sequence=1&isAllowed=y
  • Yu, H., Huang, Y., XinYu, C., Nie, W., Wang, Y., Jiao, Y., Reed, G. L., Gu, W., & Chen, H. (2016, October 15). High-sensitivity C-reactive protein in stroke patients– The importance in consideration of influence of multiple factors in the predictability for disease severity and death. Journal of Clinical Neuroscience. http://dx.doi.org/10.1016/j.jocn.2016.10.020

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group