Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Mengenal Berbagai Jenis Infeksi Menular Seksual dan Gejalanya

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi, Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi isu yang sering disalahpahami dan dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal, menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2024, lebih dari satu juta kasus IMS terjadi setiap hari di seluruh dunia, dengan perkiraan sekitar 374 juta infeksi baru setiap tahunnya yang melibatkan empat IMS utama (klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis). Data ini menunjukkan bahwa IMS merupakan masalah kesehatan global yang masih sangat aktif dan memerlukan upaya pencegahan berkelanjutan.
Keadaan ini juga terjadi di Indonesia, menurut studi di Rumah Sakit Umum Akademik Dr.Soetomo, Surabaya, antara Januari 2021 hingga Desember 2022, terdapat 222 pasien Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang juga mengalami koinfeksi IMS. Data tersebut menunjukkan bahwa IMS masih menjadi tantangan yang serius bagi kesehatan masyarakat, karena berpotensi memperburuk kondisi pasien dan meningkatkan risiko penularan penyakit lain seperti HIV/AIDS.
Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmitted Infections (STIs) merupakan kondisi yang terjadi akibat penularan mikroorganisme dari satu individu ke individu lain melalui aktivitas seksual. Istilah ini sebelumnya dikenal sebagai penyakit menular seksual (Sexually Transmitted Diseases/ STDs). Sekarang, istilah infeksi lebih banyak digunakan karena tidak semua individu yang terinfeksi menunjukkan gejala penyakit. Seseorang tanpa gejala tetap dapat menularkan IMS kepada pasangan seksualnya.
Penularan IMS dapat terjadi melalui berbagai bentuk kontak seksual, baik oral, anal, maupun vaginal. Mikroorganisme penyebab IMS masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau abrasi mikroskopis pada jaringan mukosa, seperti pada area penis, vagina, dan anus. Secara umum, IMS disebabkan oleh berbagai jenis agen infeksius, meliputi bakteri, virus, dan parasit. Masing-masing dapat menimbulkan gejala dan komplikasi yang berbeda, tergantung pada jenis mikroorganisme serta kondisi daya tahan tubuh seseorang. Penggunaan kondom secara konsisten dapat menurunkan risiko penularan sebagian besar IMS, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.
Jenis-Jenis IMS dan Gejalanya
IMS sendiri memiliki berbagai bentuk dengan penyebab yang berbeda-beda, berikut penjelasan mengenai beberapa jenis IMS:
1. Gonore (Gonorrhea):
Gonore ini menyerang reproduksi, rektum, maupun tenggorokan. Pada wanita, gejalanya sering kali tidak bergejala atau hanya berupa keluhan ringan seperti nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul bawah, peningkatan keputihan, atau perdarahan di luar masa menstruasi. Pada pria, gejala yang umum seperti sensasi terbakar saat buang air kecil, keluarnya cairan berwarna putih, kuning, atau hijau dari penis, serta pembengkakan pada testis. Jika tidak diobati, gonore dapat menyebabkan infertilitas pada pria maupun wanita.
2. Sifilis (Syphilis):
Sifilis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menyerang pria dan wanita dengan gejala yang bervariasi sesuai stadium penyakit. Pada tahap awal, sifilis sering ditandai dengan luka tidak nyeri (chancre) pada area genital atau mulut, yang kerap tidak disadari. Pada wanita, sifilis sering tidak bergejala atau hanya menunjukkan tanda ringan yang dapat disalahartikan sebagai infeksi lain. Sifilis yang tidak diobati dapat berkembang ke tahap lanjut dan menyebabkan gangguan saraf, jantung, serta komplikasi serius lainnya.
3. Bacterial Vaginosis (BV)
BV hanya dapat menyerang wanita, gejalanya meliputi keputihan berwarna putih atau abu-abu dengan bau amis khas, terutama setelah berhubungan seksual, disertai rasa gatal, nyeri, atau sensasi gatal di luar vagina. BV bukanlah IMS murni, kondisi seperti menstruasi karena perubahan pH dan hormon, dan terlebih saat kehamilan dapat memicu munculnya BV. Pada kehamilan, BV dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa aktivitas seksual dapat meningkatkan risikonya.
4. Klamidia (Chylamydia)
Chlamydia ini jika terjadi pada wanita sering kali tidak bergejala namun jika bergejala akan adanya keputihan yang tidak normal atau abnormal vaginal discharge, pendarahan di luar siklus menstruasi, nyeri panggul, peningkatan frekuensi buang air kecil (disuaria) dan adanya sensasi terbakar saat buang air kecil. Pada pria, gejala yang muncul berupa keluarnya cairan dari penis, rasa terbakar saat buang air kecil, dan pembengkakan testis. Infeksi klamidia yang tidak diobati merupakan penyebab utama penyakit radang panggul dan infertilitas.
5. Herpes Genital (Genital Herpes)
Herpes genital disebabkan oleh virus Herpes Simplex Virus. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami keluhan ringan yang sering disalahartikan sebagai iritasi kulit biasa seperti jerawat. Saat terjadi wabah (outbreak) muncul lepuh (blisters) atau luka di sekitar alat kelamin, rektum, atau mulut yang terasa nyeri dan dapat disertai gejala seperti demam atau nyeri tubuh. Ketika lepuh tersebut akan pecah dan berubah menjadi luka terbuka yang menyebabkan rasa tidak nyaman hingga proses penyembuhan selesai. Virus herpes menetap seumur hidup di dalam tubuh dan dapat kambuh sewaktu-waktu, terutama saat daya tahan tubuh menurun.
6. Mycoplasma Genitalium
Mycoplasma Genitalium atau Mgen, dapat menyerang serviks (leher rahim) pada wanita, uretra (saluran kemih bagian dalam penis) pada pria, maupun rektum (dubur) pada kedua jenis kelamin. Penderita biasanya merasakan sensasi terbakar saat buang air kecil. Pada wanita, infeksi Mgen dapat menyebabkan keputihan tidak normal, nyeri atau perdarahan setelah berhubungan seksual, serta perdarahan di luar siklus menstruasi. Pada ibu hamil, infeksi ini juga berisiko meningkatkan kemungkinan persalinan prematur atau keguguran. Sementara pada pria, gejala yang umum meliputi keluarnya cairan dari penis dan rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil, akibat peradangan pada uretra. Mgen sering resisten terhadap beberapa antibiotik sehingga memerlukan terapi khusus.
7. Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammatory Disease /PID)
PID hanya dapat menyerang wanita, PID merupakan komplikasi serius dari IMS yang tidak tertangani, terutama akibat infeksi klamidia dan gonore. Kondisi ini hanya dialami oleh wanita dan menyerang organ reproduksi bagian dalam, seperti rahim dan tuba falopi. Gejala yang muncul meliputi nyeri perut bawah, demam, keputihan berbau tidak sedap, nyeri saat berhubungan seksual, serta perdarahan di luar siklus haid. Jika tidak diobati, PID dapat menyebabkan kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim) atau infertilitas (kesulitan hamil).
8. Trikomoniasis (Trichomoniasis)
Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Pada wanita, infeksi ini sering ditandai dengan rasa gatal, terbakar, nyeri, ketidaknyamanan saat buang air kecil, dan keluarnya cairan vagina berwarna kekuningan atau kehijauan dengan bau tidak sedap. Pria biasanya tidak menunjukkan gejala, tetapi dapat mengalami rasa gatal atau terbakar setelah buang air kecil, serta keluarnya cairan dari penis.
Mitos dan Fakta
Mitos Fakta
Jika tidak ada gejala, berarti tidak terinfeksi IMS. Banyak IMS seperti klamidia, gonore, dan Mgen tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Tes laboratorium adalah satu-satunya cara untuk memastikan kondisi kesehatan seksual.
Wanita saja yang perlu khawatir soal IMS. Baik pria maupun wanita sama-sama berisiko tertular IMS. Bahkan, pria dapat menjadi pembawa (carrier) tanpa menunjukkan gejala apa pun dan menularkannya kepada pasangan.
Pemeriksaan IMS hanya perlu dilakukan jika ada gejala. Pemeriksaan rutin sangat penting, terutama bagi individu aktif secara seksual. Deteksi dini membantu mencegah komplikasi serius dan penularan kepada pasangan.
Menjaga kesehatan reproduksi sejak dini adalah langkah bijak untuk melindungi diri dan pasangan dari risiko infeksi menular seksual (IMS). Pemeriksaan dini IMS merupakan langkah kunci untuk mencegah penularan lebih luas dan menghindari komplikasi serius. Deteksi sejak awal memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif. Jika telah terjadi, pemeriksaan dan pengobatan diberikan pada kedua pasangan seksual aktif untuk mencegah infeksi berulang. Kimia Farma Laboratorium & Klinik hadir sebagai layanan terpercaya yang menyediakan fasilitas laboratorium lengkap dengan jaminan kerahasiaan serta kenyamanan pasien.  

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group