Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Mengenal COVID-19 dan Jenis Vaksin yang Beredar di Indonesia

Tahukah kamu, menurut laporan World Health Organization (WHO) per Mei 2025 sejak awal kemunculannya di akhir tahun 2019, COVID-19 telah menyebabkan lebih dari 770 juta kasus dan 7 juta kematian di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, lebih dari 6,8 juta kasus telah tercatat, dengan dampak besar terhadap sektor kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Meski saat ini status darurat pandemi telah dicabut, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 masih terus bermutasi dan tetap menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan. Artinya, walaupun pandemi secara resmi dinyatakan berakhir sebagai darurat global oleh WHO pada Mei 2023, tidak serta merta virusnya lenyap. Virusnya masih ada dan terus berevolusi mengalami perubahan dalam risiko penularan, gejala, ataupun kemampuan lolos dari sistem imunitas (immune escape).

Vaksinasi tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman virus ini dan terbukti efektif dalam mengurangi risiko gejala berat, rawat inap, hingga kematian akibat COVID-19. Sejak awal program vaksinasi nasional dimulai pada Januari 2021, berbagai jenis vaksin COVID-19 telah digunakan di Indonesia. Indonesia telah melaksanakan vaksinasi COVID-19 lebih dari 400 juta dosis, dengan sasaran lebih dari 200 juta orang. Yuk, kenali lebih jauh tentang COVID-19 dan jenis vaksin yang beredar.

  1. Apa itu COVID-19?

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan virus penyebab penyakit menular  yang disebabkan oleh virus corona jenis baru bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Virus ini merupakan salah satu dari kelompok Virus Ribonucleic Acid (RNA) untai tunggal dengan polaritas positif yang termasuk dalam keluarga Coronaviridae, genus Betacoronavirus. Virus ini menyerang sistem pernapasan dan menyebar terutama melalui droplet yang keluar saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Di dalam ruangan tertutup, droplet halus dan partikel aerosol pembawa virus dapat bertahan dan menumpuk di udara, meskipun orang yang menularkannya telah pergi.

Gejalanya bervariasi, mulai dari ringan seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, hingga berat seperti sesak napas, pneumonia, dan gagal organ. Dalam beberapa kasus, pasien bahkan bisa mengalami long COVID yaitu gejala yang menetap selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah infeksi sembuh.

 
  1. Bagaimana Penularannya?

COVID-19 menyebar dengan sangat cepat, melalui udara dan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi terlebih jika dalam durasi yang lama (lebih dari 15 menit). Namun, meski kontak berlangsung singkat, kemungkinan terinfeksi dapat meningkat tergantung pada sejumlah faktor risiko, misalnya: berada dalam jarak kurang dari 2 meter, ruangan tanpa sirkulasi udara yang baik, atau tanpa menggunakan masker. Pencegahan efektif meliputi:

    • Menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat:
    1. istirahat yang cukup,
    2. berolahraga,
    3. konsumsi makan sehat bergizi,
    4. dan tetap di rumah jika merasa tidak dalam kondisi sehat.
    • Penggunaan masker.
    • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
    • Menutup mulut saat batuk dan bersin.
    • Menjaga jarak fisik.
    • Vaksinasi lengkap sebagai perlindungan utama.
  1. Gejala COVID-19 yang Perlu Diwaspadai

Gejala COVID-19 bisa sangat beragam dan dapat berubah tergantung pada varian virus, usia, dan kondisi kesehatan masing-masing orang. Umumnya, gejala muncul dalam 2–14 hari setelah terpapar, dengan tanda-tanda seperti:

    • Demam dan menggigil.
    • Batuk.
    • Sakit tenggorokan.
    • Sesak napas.
    • Kelelahan.
    • Hilangnya kemampuan indera penciuman dan perasa.
    • Nyeri otot dan sendi.
    • Sakit kepala.
    • Mual, muntah, atau diare.

Pada sebagian orang, gejalanya hanya ringan seperti flu biasa. Namun, pada kasus berat, terutama pada lansia dan pasien dengan komorbid (seperti diabetes atau hipertensi), infeksi bisa berkembang menjadi pneumonia, kerusakan paru, atau gagal organ. Yang perlu diingat, beberapa orang juga bisa mengalami Long COVID, yaitu gejala yang menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan meskipun infeksi akut sudah sembuh.

 
  1. Berbagai Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Sejak awal pandemi, pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara aktif telah memberikan izin penuh terhadap berbagai jenis vaksin Covid-19. Langkah ini dilakukan sebagai upaya percepatan penanganan pandemi dan perlindungan masyarakat. Berikut adalah jenis vaksin yang beredar di Indonesia, antara lain:

  • Sinovac (CoronaVac)

Vaksin berbasis inactivated virus, pertama digunakan dalam program nasional. Efek samping ringan, cocok untuk berbagai usia.

  • AstraZeneca

Vaksin vektor virus non-replikatif asal Inggris. Efektif untuk mencegah gejala sedang hingga berat.

  • Pfizer-BioNTech

Vaksin mRNA dengan efikasi tinggi, terutama dalam mencegah gejala berat. Digunakan luas secara global.

  • Moderna

Juga berbasis mRNA, umum digunakan sebagai booster. Menyebabkan demam ringan dan nyeri lokal yang bersifat sementara.

  • Zifivax

Vaksin rekombinan protein sub-unit (protein S spike) tanpa menyertakan virus secara utuh sehingga stimulasi sistem imun pada tahap awal cendrung lebih lemah. Oleh karenanya berbeda dengan vaksin covid lainnya yang hanya diberikan 2 dosis,  khusus untuk zifivax dosis lengkap diberikan sebanyak 3 dosis.

  • IndoVac dan Inavac

Vaksin buatan dalam negeri hasil kolaborasi BUMN dan lembaga riset. Simbol kemandirian vaksin nasional.

Vaksinasi COVID-19 dapat ditunda hingga minimal tiga bulan bagi mereka yang baru saja terinfeksi, terhitung sejak awal gejala atau saat dinyatakan terkonfirmasi positif infeksi. Hal ini disebabkan infeksi sebelumnya dapat memberikan perlindungan sementara terhadap penyakit yang sama atau varian yang mirip. Namun demikian, imunitas alami ini tidak selalu kuat atau bertahan lama, terutama jika virus telah bermutasi. Oleh karena itu, vaksinasi tetap penting, bahkan bagi mereka yang pernah terinfeksi, untuk memberikan perlindungan yang lebih konsisten, aman, dan menyeluruh terhadap varian baru yang mungkin muncul.

 
  1. Pentingnya Vaksinasi dan Booster

Vaksinasi dan Booster sangat dianjurkan, karena efektivitas vaksin dapat menurun seiring waktu dan munculnya varian baru. Individu yang telah menerima booster terbukti memiliki tingkat perlindungan lebih tinggi terhadap gejala berat dan rawat inap. Vaksinasi sangat penting, terutama bagi:

    • Lansia.
    • Orang dengan penyakit penyerta.
    • Tenaga kesehatan.

Efek samping vaksin COVID-19 umumnya ringan dan bersifat sementara. Beberapa yang paling sering dilaporkan meliputi nyeri di area suntikan, demam ringan, kelelahan, sakit kepala, atau nyeri otot. Efek ini biasanya hilang dalam 1-3 hari. Pada kasus yang sangat jarang, bisa terjadi reaksi alergi berat (anafilaksis), namun tenaga medis selalu siap mengantisipasi hal ini saat pemberian vaksin. Secara keseluruhan, manfaat vaksin jauh lebih besar dibanding risikonya, terutama dalam mencegah gejala berat, rawat inap, dan kematian akibat COVID-19.

Yuk, Vaksinasi Lengkap dan Booster Sekarang!

Lindungi diri dan orang-orang tercinta dengan vaksinasi COVID-19 lengkap dan booster. Semua vaksin yang tersedia telah melalui uji klinis dan dinyatakan aman oleh BPOM dan WHO. Dengan kekebalan tubuh yang kuat, kita bisa beraktivitas lebih aman dan percaya diri. Mari bersama wujudkan Indonesia yang sehat dan tangguh pascapandemi!
  • Centers for Disease Control and Prevention. Covid-19 (2025, April 23). Retrieved from. https://www.cdc.gov/yellow-book/hcp/travel-associated-infections-diseases/covid-19.html
  • Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of COVID-19 (2025, Maret 10). Retrieved from. https://www-cdc-gov.translate.goog/covid/signs-symptoms/index.html_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
  • Centers for Disease Control and Prevention. COVID-19 Vaccination Rates Among Older Adults Are Up from Last Season (2024, Desember 26). Retrieved from. https://www-cdc-gov.translate.goog/ncird/whats-new/covid-19-vaccination-rates-among-older-adults-are-up-from-last-season.html?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
  • (2024). Tidak Benar Pandemi COVID-19 Disebut Rekayasa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved from:  https://kemkes.go.id/id/tidak-benar-pandemi-covid-19-disebut-rekayasa.
  • Jenis Vaksin untuk Dosis Booster, Resmi Ditambahkan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved from:  https://upk.kemkes.go.id/new/jenis-vaksin-untuk-dosis-booster-resmi-ditambahkan
  • Nugroho, A., Fadlilah, S., Susanto, H., Damayanti, S., Suharto, A., & Sugiyarto, S. (2024). Survival analysis of diabetes mellitus and cardiovascular patients with COVID-19: a secondary data analysis. Public Health of Indonesia10(2), 143-156. https://doi.org/10.36685/phi.v10i2.788
  • Park, H. J., Gonsalves, G. S., Tan, S. T., Kelly, J. D., Rutherford, G. W., Wachter, R. M., … & Lo, N. C. (2024). Comparing frequency of booster vaccination to prevent severe COVID-19 by risk group in the United States. Nature Communications15(1), 1883. https://doi.org/10.1038/s41467-024-45549-9
  • SeyedAlinaghi, S., Mehraeen, E., Afzalian, A., Dashti, M., Ghasemzadeh, A., Pashaei, A., … & Dadras, O. (2024). Ocular manifestations of COVID-19: A systematic review of current evidence. Preventive Medicine Reports38, 102608. https://doi.org/10.1016/ j.pmedr.2024.102608
  • (2025). COVID-19 Cases, World. World Health Organization. Retrieved from:  https://data.who.int/dashboards/covid19/cases?n=o
  • (2025). Number of COVID-19 deaths reported to WHO. World Health Organization. Retrieved from:  https://data.who.int/dashboards/covid19/deaths?n=o

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group