Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨🍴Di sini ada Tongseng, Rawon, Empal dan Gulai yang dijamin SEHAT 🍲🥩😋
Benarkah Kecerdasan Anak Lebih Banyak Diwariskan dari Ibu? Mitos atau Fakta?
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
Mengapa ketika anak berprestasi, yang dipuji selalu ibunya, tapi ketika anak kesulitan belajar, yang disalahkan juga ibunya? Benarkah ayah sama sekali tidak berperan dalam menentukan kecerdasan anak? Seberapa tepatkah anggapan yang meyakini bahwa faktor genetik kecerdasan hanya diturunkan melalui genetik ibu? Ungkapan “anak cerdas pasti ikut ibunya!” atau sebaliknya “kalau anaknya bodoh, salah ibunya tuh!” kalimat tersebut memang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Mitos : “100% kecerdasan anak berasal dari gen ibu karena terletak di kromosom X” Fakta: Klaim ini telah dibantah oleh berbagai penelitian genetik modern dan tidak memiliki basis ilmiah yang kuat. Riset GWAS (genome-wide association studies) mengungkapkan bahwa inteligensi merupakan karakteristik yang sangat rumit dan melibatkan berbagai gen (poligenik), di mana setiap gen memberikan pengaruh yang relatif kecil. Riset menunjukkan 1.271 varian genetik independen yang terkait dengan pencapaian pendidikan, tersebar di berbagai kromosom. Bagaimana menurut ahli? dr. Yulia Ariani Aswin, seorang dokter anak konsultan nutrisi pediatrik, penyakit metabolik, dan genetika medis Universitas Indonesia (UI), menjelaskan bahwa kontribusi gen terhadap kecerdasan hanya berkisar 40-60 persen. “Sisanya adalah faktor lingkungan dan non genetik”, ujar dr. Yulia. Persepsi keliru yang menyesatkan mengenai kromosom X sebagai tempat utama gen kecerdasan ternyata tidak benar. Realitanya, gen-gen yang berperan dalam kecerdasan tersebar di ribuan tempat dalam keseluruhan DNA manusia. Kecerdasan tidak hanya eksklusif berada di kromosom X, bahkan ayah dan ibu memiliki kontribusi yang sama besarnya dalam mewariskan kecerdasan kepada anak. Faktor Genetik dalam Kecerdasan Anak Menurut riset, faktor genetik berperan dalam menentukan kecerdasan anak, studi menunjukkan bahwa faktor genetik mendasari sekitar 50 persen perbedaan kecerdasan antara individu. Adapun faktor genetik yang diwariskan oleh orang tua seperti kecepatan berfikir, daya ingat, dan potensi intelektual. Penting untuk dipahami bahwa faktor genetik merupakan potensi kecerdasan anak, dimana apabila potensi tersebut diabaikan yakni tidak ada latihan untuk meningkatkan kecerdasan, maka kecerdasan tersebut tidak akan berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun genetik memberikan fondasi dasar, realisasi optimal dari potensi kecerdasan tetap memerlukan intervensi dan stimulasi yang tepat dari lingkungan. Faktor Lingkungan dalam Kecerdasan Anak Kecerdasan bukanlah sesuatu yang tetap, sehingga faktor lingkungan memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengoptimalkan potensi genetik yang telah diwariskan kepada anak. Lingkungan tidak hanya memengaruhi kecerdasan secara langsung, tapi juga turut bekerja melalui mekanisme biologis yang “mengatur gen”. Secara langsung, berdasarkan penelitian terkini, faktor lingkungan menyumbang hingga 50 persen perbedaan kecerdasan antar individu, meliputi berbagai aspek seperti nutrisi, stimulasi kognitif, kualitas tidur, dan interaksi sosial. Nutrisi yang kuat seperti asupan DHA, protein, dan vitamin B kompleks sangat penting bagi perkembangan sel otak, sementara stimulasi kognitif melalui aktivitas membaca, bermain puzzle, dan diskusi kreatif dapat meningkatkan koneksi saraf. Tidur berkualitas selama 8-10 jam dengan jadwal teratur juga berperan penting dalam konsolidasi memori dan perkembangan kognitif. Lingkungan keluarga yang responsif, pendidikan berkualitas, serta pengalaman yang beragam dan menantang secara intelektual dapat memaksimalkan ekspresi gen-gen yang terkait dengan kecerdasan, membuktikan bahwa investasi pada faktor lingkungan dapat memberikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perkembangan intelektual anak. Jika anak diberi lingkungan baik, kecerdasan bisa berkembang lebih optimal. Selain itu, ada hal menarik yang dikenal dengan istilah epigenetik. Sederhananya, epigenetik adalah cara tubuh kita menyalakan atau mematikan gen tertentu tanpa mengubah isi DNA itu sendiri. Jadi, meskipun seorang anak sudah mewarisi gen kecerdasan dari orang tuanya, faktor lingkunganlah yang bisa menentukan apakah gen tersebut “aktif” atau justru “diam”. Misalnya, anak yang mendapatkan nutrisi baik, cukup tidur, dan stimulasi belajar sejak dini, akan lebih mungkin mengoptimalkan potensi genetiknya. Sebaliknya, stres berkepanjangan atau kurangnya perhatian bisa membuat potensi itu tidak berkembang maksimal. Inilah sebabnya dua anak dengan gen serupa bisa tumbuh dengan tingkat kecerdasan yang berbeda, tergantung pada pengalaman dan pola asuh yang mereka jalani. Oleh karenanya, dapat dikatakan lingkungan bukan sekadar pendukung, tapi bisa benar-benar menentukan cara kerja gen kecerdasan.
Mitos & Fakta Mengenai Kecerdasan Anak Lebih Banyak Diwariskan dari Ibu?
| Mitos | Fakta |
| Kecerdasan anak sepenuhnya diwariskan dari ibu. | Tingkat kecerdasan anak merupakan hasil dari gabungan genetik yang berasal dari ayah dan ibu, dengan kontribusi faktor hereditas berkisar antara 40-60 persen. |
| Ibu sebagai pembawa dua kromosom X, sehingga gen kecerdasan dominan dari ibu. | Dari aspek biologis, ibu memang memiliki sepasang kromosom X, dan beberapa gen yang terkait dengan fungsi otak terdapat pada kromosom X tersebut. Namun, gen-gen yang berperan dalam kecerdasan tidak hanya ada di kromosom X, melainkan tersebar di seluruh kromosom. Karena itu, baik ayah maupun ibu sama-sama berkontribusi dalam mewariskan potensi kecerdasan kepada anak. |
| Ayah tidak berkontribusi pada kecerdasan anak. | Ayah juga memberi kontribusi genetik pada kecerdasan anak, dan faktor lingkungan seperti pendidikan, nutrisi, stimulasi, dan ikatan emosional sangat berperan penting dalam perkembangan kecerdasan anak. |
| Kecerdasan hanya ditentukan oleh faktor genetik. | Faktor lingkungan, pendidikan, pengalaman, dan stimulasi sejak dini memiliki peran sangat besar dalam pembentukan kecerdasan, bahkan lebih dominan dibandingkan genetik. |
Langkah Bijak Dalam Meningkatkan Kecerdasan Anak
Selain faktor genetik dan lingkungan, ada aspek medis yang sering diabaikan namun krusial bagi perkembangan dalam peningkatan kecerdasan anak. Berikut langkah bijak dalam meningkatkan kecerdasan anak: 1. Pemeriksaan Asam Folat & Vitamin B12 Pemeriksaan ini penting karena dapat mendukung pembentukan sel saraf dan otak janin. Rendahnya kadar asam folat berisiko mengganggu perkembangan kognitif anak secara signifikan. Bahkan ketika anak kekurangan vitamin B12 dapat mengalami keterlambatan perkembangan.2. Pemeriksaan Tiroid (TSH & FT4)
Pemeriksaan ini penting karena gangguan tiroid pada ibu, bahkan sebelum hamil, dapat mempengaruhi perkembangan otak anak. Dampak negatifnya adalah hipotiroid yang tidak terdiagnosis dapat menyebabkan penurunan tingkat IQ anak sebesar 10-15 poin. Kenapa perlu? karena banyak gangguan tiroid yang tidak bergejala sehingga perlu deteksi dini.3. Status Zat Besi & Anemia (Hb, Feritin, Saturasi Besi)
Anemia defisiensi besi pada ibu hamil meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan kognitif pada anak. Pemeriksaan ini berupa Hb lengkap, serum ferritin, atau panel zat besi.4. Vitamin D
Vitamin D turut berperan dalam regulasi gen. Status vitamin D ibu hamil sangat memengaruhi transfer vitamin D ke janin melalui plasenta. Pemeriksaan ini menilai kadar serum 25(OH)D dalam tubuh ibu hamil. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu pembentukan otak, tulang, sistem imun janin, serta risiko gangguan perkembangan saraf dan perilaku pada anak.5. Pemeriksaan Gula Darah
Kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) pada ibu hamil dapat memengaruhi pertumbuhan otak janin secara tidak langsung, yaitu melalui dampaknya terhadap aliran darah plasenta, ketersediaan oksigen, dan keseimbangan nutrisi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan berlebih, gangguan metabolik, hingga keterlambatan perkembangan saraf. Oleh karena itu, pemeriksaan panel glukosa mulai pada trimester kedua penting dilakukan untuk mendeteksi dini diabetes gestasional (diabetes yang muncul pertama kali saat kehamilan). Beberapa pemeriksaan ini dapat Anda lakukan di Kimia Farma Laboratorium & Klinik. Mari lakukan segera, guna mendukung dalam memaksimalkan kesehatan dan perkembangan buah hati. Referensi
- Davies, G., Lam, M., Harris, S. E., Trampush, J. W., Luciano, M., Hill, W. D, Deary, I. J. (2019). Study of 300,486 individuals identifies 148 independent genetic loci influencing general cognitive function. Nature Communications, 10, 2068.
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (n.d.). Ahli genetika ungkap faktor genetik hanya sebagian penyebab kecerdasan anak. Diakses dari fk.ui.ac.id
- Molloy, A. M., Kirke, P. N., Troendle, J. F., Burke, H., Sutton, M., Brody, L. C., … Scott, J. M. (2019). Maternal vitamin B12 status and risk of neural tube defects in a population with high neural tube defect prevalence and no folic acid fortification. American Journal of Clinical Nutrition, 109(2), 345–353.
- Universitas Airlangga. (2025, Februari 24). Pengaruh Genetik dan Lingkungan terhadap Kecerdasan Anak.
- Okbay, A., Beauchamp, J. P., Fontana, M. A., Lee, J. J., Pers, T. H., Rietveld, C. A., … Benjamin, D. J. (2016). Genome-wide association study identifies 74 loci associated with educational attainment. Nature, 533(7604), 539–542.
- Rogers, L. M., Boy, E., Miller, J. W., Green, R., Sabel, J. C., Allen, L. H., & Northrop-Clewes, C. A. (2018). Vitamin B12 and early childhood cognitive outcomes: A randomized controlled trial. Advances in Nutrition, 9(6), 851–859.
- Velasco, I., Bath, S. C., & Rayman, M. P. (2018). Iodine as essential nutrient during the first 1000 days of life. Nutrients, 10(3), 290.


