Kimia Farma Laboratorium & Klinik
GELORA🔥 Promo Oktober untuk GARDA 🛡️ Terdepan Perlindungan Kesehatan💪🏻
Ini yang Perlu Kamu Tahu tentang Hepatitis B
Pernah merasa tubuh kalian baik-baik saja, tidak demam, tidak nyeri, dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa dan merasa tubuh baik-baik saja, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan?
Tapi, Hati-hati. Tidak semua kondisi tubuh yang terasa sehat tidak selalu terbebas dari suatu penyakit.
Penyakit yang dapat terjadi salah satunya adalah Hepatitis B. Infeksi yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (HBV) yang dapat menyerang sel hati dan tidak menimbulkan gejala yang jelas. Pasien bahkan bisa tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi, sementara virus tetap berada di dalam tubuh dan berpotensi untuk menimbulkan kerusakan hati dalam jangka panjang.
Hepatitis B menjadi salah satu penyakit yang menjadi perhatian dunia. Berdasarkan World Health Organization (WHO), Sekitar 240 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B kronis pada 2024. Pada tahun yang sama, diperkirakan terdapat sekitar 900 ribu kasus terbaru dengan 1,1 juta kematian yang diakibatkan oleh hepatitis B, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah hanya sekitar 27% orang yang mengidap hepatitis B dengan kurang dari 5% yang kurang mendapatkan penanganan yang tepat.
Lalu, sebenarnya apa itu hepatitis B? Mengapa seseorang bisa terinfeksi tanpa merasakan gejala? Siapa saja yang berisiko? Dan bagaimana cara mengetahuinya?
Mari kenali lebih jauh.
Kasus
Secara global, hepatitis B masih menjadi permasalahan umum di dunia kesehatan.
Menurut World Health Organization (WHO) sebanyak 240 Juta orang di dunia hidup dengan Hepatitis B Kronis pada 2024. Pada tahun yang sama juga kembali diperkirakan bahwa terdapat sekitar 900 ribu kasus baru dengan 1,1 juta kasus kematian yang diakibatkan oleh hepatitis B dengan komplikasi lain seperti sirosis dan kanker hati. Berdasarkan data tersebut yang lebih mengenaskan adalah hanya terdapat sekitar 27% orang yang hidup dengan hepatitis B dengan hanya sebanyak 5% dari pasien tersebut yang mendapatkan pengobatan.
Permasalahan ini juga terjadi di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 memperkirakan sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B. Namun Indonesia berusaha bangkit dan keluar penyakit mematikan ini, hal ini kembali dibuktikan dengan data akhir yang dikeluarkan oleh Kemenkes yang menunjukkan pasien hepatitis B mengalami penurunan dari 7,1% pada 2013 menjadi sekitar 2,4% pada 2023.
Angka tersebut menunjukkan dua hal yang menjadi poin penting, yaitu upaya pencegahan yang telah mengalami perubahan dari tahun sebelumnya walau penyakit ini masih membutuhkan perhatian dan kerjasama seluruh masyarakat. Terlebih lagi, penyakit Hepatitis B terjadi tanpa menimbulkan gejala, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai penularan dan mencegah berbagai komplikasi lainnya.
Lantas, sebenarnya apa itu hepatitis B? Bagaimana penyakit ini menular? Mengapa seseorang dapat terinfeksi tanpa merasakan gejala? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana cara mendeteksi serta mencegahnya? Di artikel ini kita akan mengupas tuntas dan membahas mengenai Hepatitis B.
Apa itu Hepatitis B?
Hepatitis B adalah infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Virus ini menyerang sel hati sehingga dapat menimbulkan peradangan. Infeksi HBV dapat bersifat akut maupun kronis. Hepatitis B akut merupakan infeksi yang berlangsung dalam jangka pendek, terutama pada periode awal setelah seseorang terpapar virus. namun pada sebagian orang, sistem kekebalan tubuh mereka berhasil mengendalikan dan membersihkan virus yang terdapat di dalam tubuh sehingga hepatitis B tidak semakin berkembang dan memberikan berbagai komplikasi yang serius.
Sementara itu, apabila virus tetap berada di dalam tubuh selama lebih dari enam bulan, kondisi tersebut dikategorikan sebagai hepatitis B kronis. Sementara Infeksi kronis perlu mendapat perhatian yang lebih karena dapat menyebabkan kerusakan hati secara bertahap dan meningkatkan risiko terjadinya sirosis, gagal hati, hingga kanker hati.
Risiko hepatitis B sangat dipengaruhi oleh usia saat seseorang terinfeksi. Infeksi yang terjadi pada bayi memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk berkembang menjadi kronis dibandingkan infeksi yang terjadi saat dewasa. WHO menyebutkan bahwa infeksi yang didapat pada masa bayi atau anak usia dini dapat berkembang menjadi kronis pada sekitar 95% kasus, sedangkan infeksi yang diperoleh saat dewasa berkembang menjadi kronis pada kurang dari 5% kasus.
Gejala hepatitis B tersebut antara lain:
Salah satu alasan mengapa hepatitis B sangat sulit untuk dikendalikan adalah karena penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala sama sekali sehingga banyak pengidap yang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi dan tanpa sengaja dapat menularkan kepada orang lain. Pada sebagian kasus hepatitis B akut, gejala baru muncul sekitar 1–5 bulan setelah tertular, hal ini seperti:
Hepatitis B memang bisa disebut sebagai “pembunuh diam-diam” ia menyerang tanpa aba-aba, menular tanpa disadari, namun berpotensi mengancam nyawa manusia. Dari 240 juta orang di dunia dan 6,7 juta orang Indonesia hidup dengan hepatitis B kronis, sebagian besar bahkan tidak tahu bahwa virus ini sudah ada dalam tubuh mereka. Untungnya, penyakit ini memiliki obat penawar: vaksinasi lengkap, menghindari jalur penularan seperti berbagi jarum suntik atau alat pribadi, serta rutin melakukan penapisan HBsAg terbukti mampu menekan angka kasus kematian seperti yang sudah dibuktikan Indonesia dengan penurunan prevalensi dari 7,1% menjadi 2,4% pada 2024.
Jangan tunggu sampai muncul gejala atau komplikasi seperti sirosis dan kanker hati, sebab pada hepatitis B, ketidaktahuan bisa berakibat fatal. Yuk, lindungi hati kamu dan orang-orang tersayang mulai sekarang dengan melakukan penapisan HBsAg dan pemeriksaan fungsi hati di Kimia Farma Diagnostika.
- Demam
- Nyeri otot dan sendi
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Lemas
- Hilang nafsu makan
- Perut kembung
- Diare
- Kulit dan bagian putih mata (sklera) berwarna kuning
- Air seni berwarna gelap
- Uji darah, untuk mendeteksi antigen dan antibodi hepatitis B (seperti HBsAg dan anti HBs) serta menilai fungsi hati
- USG perut bagian atas untuk melihat kondisi dan struktur hati
- CT scan atau MRI perut bagian atas bila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut
- Biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi hati (pada kasus tertentu) untuk menilai tingkat kerusakan hati
1. Hepatitis B Akut
Kabar baiknya, hepatitis B akut umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Pada sebagian besar kasus, gejala akan mereda dalam waktu 2–3 minggu meski infeksi dapat berlangsung hingga 6 bulan. Penanganannya lebih berfokus pada meredakan gejala dan mendukung pemulihan tubuh, seperti:- Memperbanyak istirahat agar tubuh memiliki energi optimal untuk melawan infeksi
- Mencukupi kebutuhan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna mendukung daya tahan tubuh
3. Hepatitis B Kronis
Pada hepatitis B kronis, dokter dapat memberikan obat antivirus untuk menekan perkembangbiakan virus dan mencegah kerusakan hati, seperti: Dokter dapat meresepkan obat antivirus untuk penderita hepatitis B kronis, seperti Entecavir, Tenofovir, Telbivudine, Lamivuldine, atau Adefovir. Perlu dipahami, obat antivirus tidak dapat menghilangkan virus hepatitis B sepenuhnya dari tubuh, melainkan berperan mengendalikan jumlah virus agar tidak terus merusak hati. Oleh karena itu, kebanyakan pengidap hepatitis B kronis memerlukan pengobatan jangka panjang, bahkan seumur hidup, disertai kontrol rutin untuk memantau respons pengobatan dan mendeteksi komplikasi sejak dini. Injeksi interferon juga dapat menjadi pilihan terapi, meski tidak direkomendasikan untuk ibu hamil karena berisiko menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, kesulitan bernapas, dan depresi. Pada kasus hepatitis B yang telah menyebabkan kerusakan hati berat hingga fungsi hati terganggu secara permanen, transplantasi hati dapat menjadi pilihan terakhir setelah melalui penilaian medis yang menyeluruh Pencegahan Langkah paling efektif untuk mencegah hepatitis B adalah dengan melakukan vaksinasi hepatitis B secara lengkap sesuai jadwal yang dianjurkan. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI mengajak seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif dalam upaya eliminasi hepatitis melalui empat gerakan “ATASI”:- Atasi ketidaktahuan dengan edukasi
- Atasi keterlambatan diagnosis dengan penapisan
- Atasi akses terbatas dengan memperluas layanan gratis
- Atasi stigma dengan empati dan solidaritas
- Mendapatkan vaksin hepatitis B lengkap
- Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
- Tidak berbagi jarum suntik
- Tidak berbagi alat pribadi seperti sikat gigi atau alat cukur
- Memastikan alat medis, tato, dan tindik sudah steril
- Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama bila termasuk kelompok berisiko
| Mitos | Fakta |
| Kalau tidak ada Gejala, berarti aman dari Hepatitis B? | Hepatitis B sering tidak menimbulkan gejala, terutama pada tahap awal ketika seseorang dapat terlihat sehat walaupun sebenarnya sudah terinfeksi. Pemeriksaan Laboratorium juga diperlukan untuk memastikan kesehatan badan. |
| Orang dengan hepatitis B harus dijauhi supaya tidak teratur | Hepatitis B tidak menular melalui kontak sosial seperti berjabat tangan, berpelukan, atau bersentuhan. |
| Mengidap Hepatitis B berarti pasien tersebut pasti akan terkena kanker hati. | Hepatitis B memang meningkatkan risiko komplikasi seperti sirosis dan kanker hati, namun hal ini bukan berarti setiap orang dengan hepatitis B pasti akan mengalaminya. komplikasi tersebut harus berdasarkan hasil pemeriksaan dari dokter setelah mendapatkan pertolongan pertama. |
Referensi
Adji G Rinepta, A. G. (2026, July 26). Kemenkes: RI peringkat 4 kasus hepatitis B terbanyak dunia. detikJogja. https://www.detik.com/jogja/berita/d-8590859/kemenkes-ri-peringkat-4-kasus-hepatitis-b-terbanyak-dunia
Alodokter. (2026). Hepatitis B: Gejala, penyebab, dan pengobatan. https://www.alodokter.com/hepatitis-b
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, September 30). Mengenal penyakit hepatitis B. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3681/mengenal-penyakit-hepatitis-b
Halodoc. Hepatitis B. https://www.halodoc.com/kesehatan/hepatitis-b
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, July 23). Putuskan penularan, wujudkan Indonesia bebas hepatitis 2030. https://www.kemkes.go.id/id/putuskan-penularan-wujudkan-indonesia-bebas-hepatitis-2030
Kurniawan, J. (2021). Perkembangan terapi hepatitis B kronis di Indonesia. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 8(3), 110. https://doi.org/10.7454/jpdi.v8i3.632
World Health Organization. (2026, April 28). Global hepatitis report 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789240122383


