Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Mau Umrah Tenang? Jangan Lupa Perisai Kesehatan Ini Dulu!

Ibadah umrah bukan hanya soal kesiapan batin, tetapi juga ketahanan fisik. Para jemaah harus siap menghadapi ribuan orang dari mancanegara, suhu ekstrem, hingga potensi paparan penyakit menular. Berdasarkan data Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH), sebanyak 1,8 juta penduduk Indonesia sebagai jemaah umrah periode tahun 2024-2025. Angka ini menjadi pengingat bagi jemaah untuk lebih memperhatikan kesehatan dan memastikan tubuh tetap prima selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Sebagai upaya perlindungan, pemerintah Indonesia mewajibkan seluruh jemaah umrah untuk melakukan vaksinasi meningitis dan polio. Di sisi lain, terdapat juga beberapa vaksinasi tambahan yang perlu dilakukan oleh para jemaah demi memperkuat daya tahan tubuh dalam menjalankan ibadah di negeri orang.
Pentingnya Vaksinasi Tambahan Sebelum Umrah
Perbedaan cuaca antara Indonesia dan Arab Saudi seringkali mempengaruhi daya tahan tubuh jemaah Indonesia. Akibatnya jemaah lebih rentan mengalami dehidrasi, pusing, kelelahan, serta gangguan konsentrasi. Di sisi lain, perbedaan cuaca dan kelembapan juga dapat membuat tubuh rentan tertular penyakit. Hal ini dapat mengganggu ibadah dan kesehatan jemaah umrah asal Indonesia. Itulah mengapa vaksinasi tambahan berperan penting sebagai pelindung ekstra sistem imun sebelum menghadapi iklim yang berbeda dan risiko penyakit menular.
Vaksin Tambahan yang Direkomendasikan
1. Vaksin Tifoid
Tifoid atau demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Risiko utama berasal dari konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Meskipun makanan katering resmi umrah umumnya aman, risiko tetap ada.  Selama di Tanah Suci, jemaah Indonesia akan mengalami perbedaan seperti suhu, jenis makanan, serta air yang dikonsumsi tidak higienis. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena demam tifoid, terutama bagi jemaah yang sering jajan di luar katering resmi dan memiliki riwayat tifoid berulang. Penyakit ini menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Sebaiknya vaksin tifoid ini diberikan setidaknya 2 minggu sebelum melakukan perjalanan ibadah umrah.
2. Vaksin influenza
Influenza merupakan salah satu infeksi pernapasan yang paling mudah menular terutama di area padat seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. WHO dan CDC secara konsisten merekomendasikan vaksin influenza musiman sebagai upaya efektif mencegah penularan, khususnya bagi jemaah dengan risiko komplikasi seperti lansia, penderita penyakit jantung, asma, diabetes, atau mereka yang menjalani perjalanan panjang. Vaksin diberikan setidaknya 2 minggu sebelum keberangkatan untuk memberikan perlindungan optimal.
3. Vaksin Tetanus-Difteri-Pertusis (Tdap)
Vaksin Tdap merupakan vaksin rutin yang idealnya diperbarui setiap 10 tahun untuk mencegah penyakit tetanus, difteri, dan pertusis. Selama perjalanan, luka kecil seperti lecet akibat sandal atau jatuh bisa berpotensi menimbulkan infeksi serius termasuk tetanus. Berdasarkan data Kemenkes, hingga Agustus 2025 tercatat kasus difteri di 45 Kabupaten/Kota, bahkan kasus ini terjadi di berbagai negara. Penting bagi para jemaah melakukan vaksinasi Tdap menjelang perjalanan ibadah umrah. Vaksin Tdap sebaiknya diberikan 2-4 minggu sebelum keberangkatan.
4. Vaksin Herpes Zoster
Herpes zoster atau cacar api sering muncul pada usia di >50 tahun, terutama jika daya tahan tubuh menurun akibat kelelahan atau stres perjalanan panjang. Ibadah umrah dengan aktivitas yang padat dapat memicu kambunya penyakit pada orang yang pernah terkena cacar air. Vaksin herpes zoster hadir membantu mengurangi risiko infeksi dan nyeri pascaherpes. Vaksin herpes zoster diberikan minimal 4 minggu sebelum berangkat ke Tanah Suci.
5. Vaksin Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan sudah menjadi penyakit umum di berbagai negara seperti menyerang wilayah Amerika, Afrika, Timur Tengah, Asia, dan Kepulauan Pasifik. Jemaah yang kurang istirahat atau kelelahan selama ibadah berisiko lebih tinggi mengalami infeksi dengue, karena daya tahan tubuh yang menurun. BPOM (2022) menyebutkan, bahwa Vaksin Dengue ditujukan untuk mencegah penyakit dengue pada usia 6-45 tahun. Vaksin ini sebaiknya diberikan 2-4 minggu menjelang keberangkatan, terutama bagi jemaah yang tinggal di daerah endemik atau pernah terkena DBD sebelumnya.
Kelompok Rentan yang Memerlukan Perhatian Khusus
Beberapa kelompok jemaah memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi maupun komplikasi perjalanan, sehingga vaksinasi tambahan sangat dianjurkan:
  •  Lansia ≥65 Tahun
Berisiko mengalami pneumonia, dehidrasi, kelelahan, dan penurunan daya tahan tubuh.
  • Penderita Penyakit Kronis
Termasuk diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, atau asma.
  • Imunokompromais
Perlu evaluasi individual karena beberapa vaksin, terutama yang berbasis virus hidup, tidak dapat diberikan.  
  • Ibu Hamil
Harus berkonsultasi dengan dokter karena beberapa vaksin aman (influenza, Tdap trimester 2-3), tetapi sebagian lainnya tidak dianjurkan.
Menilai kondisi kesehatan pribadi dan memastikan kelayakan medis (fit to travel) sebelum keberangkatan sangat penting agar ibadah dapat dilakukan dengan aman.
Mitos & Fakta Mengenai Vaksin Tambahan
Mitos Fakta
Hanya vaksin meningitis yang wajib, sementara vaksin lain tidak penting. Memang Vaksin meningitis menjadi syarat wajib. Namun, mulai tahun 2025, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa vaksin polio juga diwajibkan bagi seluruh jemaah yang akan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci. Walaupun terdapat vaksin dalam kategori tidak wajib pun alangkah baiknya dapat dilakukan sebagai perlindungan kesehatan optimal selama di tanah suci.
Jemaah yang sudah tervaksinasi di Indonesia tidak perlu menunjukkan bukti lagi di Arab Saudi. Jemaah wajib menunjukkan sertifikat vaksinasi yang sah seperti International Certificate of Vaccination (ICV) or Prophylaxis (ICV) atau kartu kuning secara fisik dan menunjukkannya sebagai bukti kepada pihak terkait saat tiba di Arab Saudi. Jika tanpa bukti yang valid, jemaah dapat menghadapi hambatan saat pemeriksaan masuk.
Vaksinasi tidak efektif mencegah penyakit karena jemaah tetap bisa sakit di Tanah Suci. Vaksinasi memberikan perlindungan yang signifikan dan mengurangi risiko sakit parah akibat penyakit menular seperti meningitis, polio, dan penyakit lainnya. Tidak ada vaksin yang 100% sempurna, tetapi vaksinasi secara keseluruhan dapat mengurangi kemungkinan tertular dan tingkat keparahan penyakit, serta dapat mencegah kondisi memburuk hingga menimbulkan komplikasi, yang sangat penting mengingat jutaan orang berkumpul dari berbagai negara.
Jemaah lansia itu ≥65 tahun tidak perlu divaksinasi karena sistem imun mereka sudah lemah, dan vaksin tidak akan bekerja efektif. Jemaah lansia sangat dianjurkan menerima vaksinasi tambahan selain yang wajib, karena jemaah lansia beresiko tinggi terhadap komplikasi penyakit menular. Meskipun respons imun mungkin tidak sekuat dewasa muda, vaksinasi tetap memberikan perlindungan demi menjaga daya tahan tubuh saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Ibadah umrah bukan hanya soal kesiapan hati, melainkan juga tentang seberapa kuat tubuh Anda menghadapi perjalanan jauh dan cuaca ekstrem di Tanah Suci. Dengan melakukan vaksinasi baik yang wajib maupun tambahan, jemaah dapat melindungi diri serta menurunkan risiko tertular penyakit dan menjaga stamina tetap prima selama beribadah. Selain itu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum keberangkatan sangat dianjurkan untuk menentukan kebutuhan vaksin yang paling sesuai, memastikan kondisi tubuh tetap optimal, dan meminimalkan risiko gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah. Wujudkan perjalanan ibadah yang tenang dan aman dengan melakukan vaksinasi tambahan hanya di Kimia Farma Laboratorium & Klinik.

Cek artikel kesehatan lainnya dan jangan lewatkan promo menarik khusus bulan ini!

 

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group