Artikel
Pensiun Bukanlah Akhir! Peran Skrining Kesehatan Menuju Usia Senja
- dr. Rosa Puspita

Tidak terasa kita telah memasuki penghujung akhir bulan Oktober 2024, tahukah kalian bahwa di awal bulan tepatnya tanggal 1 Oktober bukan hanya Indonesia yang memperingati Hari Kesaktian Pancasila? namun Dunia turut pula menetapkannya sebagai Hari Lanjut Usia Internasional. Hal ini sebagai bentuk komitmen dunia secara global terhadap berbagai permasalahan lanjut usia (lansia) mengingat semakin panjangnya usia harapan hidup membawa konsekuensi terhadap meningkatnya jumlah lansia (mulai usia 60 tahun ke atas). Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab individu ataupun pemerintah, tetapi juga melibatkan semua pihak termasuk pihak swasta.
Kelompok pra–lansia adalah mereka yang berusia di rentang 45 tahun sampai dengan 59 tahun. Kelompok usia ini akan melewati sebuah masa transisi. Pada sepuluh tahun pertama (usia 45-55 tahun) kerap kali adalah masa gemilang seseorang di puncak karir. Mereka masih aktif meskipun sudah mulai mempersiapkan diri menghadapi era purnabakti/pensiun (umumnya usia 55 hingga 60 tahun ke atas). Inilah waktu emas untuk secara simultan proaktif mengedukasi, mensosialisasikan informasi kesehatan, maupun mengambil langkah solutif antisipatif untuk mempersiapkan para pra–lansia menuju kualitas hidup yang sehat, tetap aktif, dan produktif di masa senja mereka nanti. Dianggap sebagai waktu emas oleh karena kemampuan kognitif yang masih baik untuk menyerap informasi dan edukasi pada periode ini serta ditunjang oleh kehidupan ekonomi yang mapan karena masih memiliki penghasilan.
Konsep Menua Sehat Menuju Masa Pensiun
Masa pensiun membawa kecemasan tersendiri bagi para pra lansia. Takut menjadi renta, takut penyakitan, takut tidak berpenghasilan, ataupun takut tidak dihargai lagi di lingkungannya! Padahal faktanya, dengan berbagai kemajuan teknologi kesehatan saat ini, usia secara numerik pasti bertambah, tapi usia organ tubuh belum tentu turut bertambah. Usia menua itu pasti tapi sehat adalah sebuah pilihan. Dewasa ini, menjadi tua (rentan atau frail) yang identik dengan masa lansia dapat dicegah, diobati, bahkan dikembalikan seperti kondisi semula. Inilah yang menjadi cikal bakal sebuah konsep menua yang sehat atau dikenal dengan istilah healthy aging. Terdapat lima pilar pencegahan yang mendukung konsep menua sehat, yaitu:
- Diet Sehat: Konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan, vitamin, dan mineral dapat menghindarkan diri dari kerusakan sel tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan lemak sehat seperti minyak zaitun dan ikan, serta menghindari makanan olahan dan tinggi gula dapat mencegah terjadinya obesitas, diabetes, dan penyakit metabolik.
- Aktivitas fisik teratur: Aktivitas fisik yang teratur, seperti berjalan, berlari, maupun bersepeda santai dapat meningkatkan kesehatan jantung, menjaga berat badan, dan meningkatkan fleksibilitas. Adapun aktivitas fisik yang disarankan oleh Kementrian Kesehatan adalah minimal 150 menit per minggu atau dapat dibagi menjadi sesi-sesi yang lebih pendek, misalnya: 30 menit per hari selama 5 hari dalam seminggu.
- Istirahat Cukup: Tidur yang berkualitas penting untuk pemulihan tubuh dan kesehatan mental. Setiap harinya, usahakan bangun dan tidur terjadwal pada waktu yang sama, tidak terkecuali di akhir pekan. Ini akan mengatur ritme biologis tubuh. Jumlah jam tidur yang disarankan adalah 7-8 jam per malam. Ciptakan rutinitas tidur yang baik dengan cara membatasi paparan layar gawai serta menghindari konsumsi kafein ataupun makanan berat menjelang malam (2-3 jam sebelum tidur).
- Kelola Stres: Stres yang berlebihan dapat berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau hobi yang menyenangkan untuk mengurangi stres.
- Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk skrining/deteksi masalah kesehatan sejak dini sehingga dapat dicegah, diobati, maupun dihambat perkembangannya.
Pentingnya Skrining Kesehatan Rutin
Manfaat utama dari skrining kesehatan rutin adalah deteksi dini. Terdeteksinya penyakit lebih awal biasanya akan membuat untuk lebih mudah diobati dan dikelola yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup. Adanya stigma negatif terhadap skrining kesehatan juga menjadi sebuah tantangan dalam mengedukasi dan mensosialisasi langkah promosi Kesehatan dan pencegahan ini. Salah satu stigma yang paling sering adalah ketakutan berlebih jika mengetahui hasil skrining yang tidak normal. Hal ini ditakutkan berdampak pada psikologis yang dapat berujung penolakan, stress berlebih, dan bahkan depresi.
Skrining Kesehatan diawali dengan penentuan faktor risiko kesehatan pada individu, misalnya: riwayat penyakit keluarga, kondisi kesehatan saat ini, riwayat sosial, dan atau riwayat pekerjaan. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan fisik pada individu bersangkutan misalnya berat badan, tekanan darah, pemeriksaan mata, pemeriksaan telinga, ataupun sistem bagian tubuh lainnya. Berkonsultasilah dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan paket skrining Kesehatan yang sesuai kondisi, efektif, dan efisien. Langkah terakhir adalah pemeriksaan penunjang salah satunya adalah pemeriksaan laboratorium yang umum pada usia pra lansia dan lansia antara lain:
- Hematologi rutin: Memeriksa jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Ini bermanfaat untuk mengetahui adanya anemia, infeksi, alergi, peradangan, atau gangguan darah lainnya.
- Urinalisis: mendeteksi infeksi saluran kemih, diabetes, dan masalah ginjal. Ini juga memberikan informasi tentang kesehatan metabolik.
- Fungsi Hati: Pemeriksaan enzim hati (seperti ALT, AST, ALP, dan bilirubin) untuk menilai kesehatan hati dan mendeteksi kerusakan atau penyakit hati.
- Fungsi Ginjal: Tes seperti creatinine, kadar ureum, dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) untuk menilai fungsi ginjal dan mendeteksi penyakit ginjal.
- Panel Diabetes: Mengukur kadar glukosa darah dan hemoglobin A1c untuk menilai risiko, pengelolaan, dan pengendalian diabetes serta komplikasinya.
- Panel Lemak: Memeriksa kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida untuk menilai risiko penyakit jantung.
- Kimia darah lainnya: Tes elektrolit, asam urat, enzim, dan zat lain yang dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kesehatan tubuh secara umum.
Adapun hasil skrining ini sebaiknya tidak mengambil kesimpulan secara pribadi. Berkonsultasi kembali dengan tenaga Kesehatan dapat membantu perolehan informasi kesehatan yang benar sehingga langkah solusi dan antisipatif dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang terjadi.
Secara keseluruhan, masa pensiun sudah seyogyanya menjadi periode untuk menikmati hidup di usia senja. Untuk itu perhatian khusus terhadap kesehatan diperlukan sebelum memasuki masa lansia. Check up setidaknya setahun sekali atau yang lebih lazim dikenal dengan check up ulang tahun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sangatlah disarankan. Harapannya, dengan langkah pencegahan ini dapat memaksimalkan masa senja dengan menjalani kehidupan yang lebih sehat.
Sumber:
- World Health Organization. Active aging: a policy framework. Geneva: World Health Organization; 2002.
- Smith K, Jones R. Health promotion for older adults: a focus on the pre-retirement phase. J Aging Health. 2015;27(5):854-70.
- Rowe JW, Kahn RL. Successful aging. Gerontologist. 1997;37(4):433-40.
- World Health Organization. World report on ageing and health. Geneva: WHO; 2015.
- Meyer M. The Importance of Routine Health Screening: A Review of Benefits and Barriers. J Health Promot. 2019;34(2):120-30.
- Lloyd C, Smith R. Screening in Preventive Health: Addressing Barriers and Improving Outcomes. Prev Med Rep. 2020;15:100940.