Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Tipes Mengintai di Sekolah! Kenali Gejalanya dan Lindungi Anak Sebelum Tahun Ajaran Baru

Siapa sangka, kebiasaan jajan sembarangan di kantin sekolah bisa berujung pada penyakit tipes? Bukan sekadar mitos, lingkungan sekolah yang padat aktivitas memang jadi salah satu tempat dengan risiko penyebaran penyakit infeksi yang cukup tinggi, termasuk tipes atau demam tifoid.
Supaya anak tetap semangat belajar tanpa terganggu sakit, simak artikel di bawah ini yang akan mengupas tuntas mengenai tipes (demam tifoid), mulai dari gejala hingga cara mencegahnya sejak dini.
Apa Itu Tipes (Demam Tifoid)?
Penyakit tipes (demam tifoid) disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Infeksi ini biasanya terdapat di lingkungan yang kebersihannya kurang terjaga atau akses air bersih yang terbatas, selain itu juga dapat melalui makanan atau air yang tidak higienis. Lalat yang membawa bakteri atau kontak langsung dengan kotoran yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan penyakit ini. Di Indonesia sendiri, tipes (demam tifoid) merupakan penyakit dengan jumlah kasus yang selalu meningkat setiap tahunnya.
Tipes (Demam Tifoid) termasuk penyakit yang dapat menular dengan cepat, terutama pada anak-anak. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang dengan sempurna. Risiko terserang tipes (demam tifoid) semakin meningkat bila anak bepergian ke negara atau daerah yang potensi penularan tipes (demam tifoid) tinggi, atau melakukan kontak fisik dengan pengidap tipes (demam tifoid).
Seberapa Besar Ancaman Tipes (Demam Tifoid) Di Indonesia?
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, kasus tipes (demam tifoid) paling banyak menyerang anak dibandingkan kelompok usia lainnya. Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa anak usia 5–15 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terkena tipes (demam tifoid). Hal ini dikarenakan tingginya aktivitas mereka di luar rumah, terutama di lingkungan sekolah.
Di Indonesia, tipes (demam tifoid) masih menjadi masalah kesehatan yang cukup serius dengan jumlah kasus mencapai hampir 100 ribu setiap tahunnya. Secara global, situasinya pun tidak kalah mengkhawatirkan. Data terbaru dari World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 11–20 juta kasus tipes  setiap tahun di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 128.000–161.000 jiwa.
Tingginya angka kejadian tersebut menunjukkan bahwa tipes (demam tifoid) bukan sekadar penyakit yang muncul sesekali, melainkan ancaman kesehatan yang nyata dan perlu diwaspadai. Risiko ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan menjelang tahun ajaran baru, saat anak-anak kembali beraktivitas, berinteraksi, dan menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan sekolah yang berpotensi menjadi tempat penyebaran berbagai penyakit infeksi.
Gejala Tipes (Demam Tifoid)
Salah satu alasan tipes (demam tifoid) sering terlambat ditangani adalah karena gejala awalnya menyerupai flu biasa. Akibatnya, banyak orang tua mengira anak hanya mengalami kelelahan atau infeksi ringan. Padahal, jika tidak segera ditangani, tipes (demam tifoid) dapat berkembang menjadi lebih serius. Gejala tipes (demam tifoid) biasanya muncul dalam waktu 6–30 hari setelah seseorang terpapar bakteri Salmonella typhi. Pada tahap awal, gejalanya sering kali menyerupai flu biasa sehingga sering kali tidak disadari seperti:
1. Demam Tinggi yang Berkepanjangan
Demam biasanya meningkat secara bertahap dan dapat mencapai suhu hingga 39–40°C yang sering kali berlangsung lebih dari tiga hari dan tidak kunjung membaik.
2. Tubuh Lemas dan Mudah Lelah Anak tampak kurang berenergi, lebih sering berbaring, serta tidak seaktif biasanya.
3. Nafsu Makan Menurun Penderita tipes (demam tifoid) sering mengalami penurunan nafsu makan sehingga berat badan dapat turun selama masa sakit.
4. Gangguan Pencernaan Gejala dapat berupa diare, sembelit, mual, muntah, nyeri perut
5. Sakit kepala Keluhan sakit kepala cukup sering dialami oleh penderita tipes (demam tifoid) sehingga dapat mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.
6.  Muncul Ruam Kemerahan Pada beberapa kasus, muncul bintik-bintik merah kecil di area dada dan perut yang dikenal sebagai rose spots.
7.  Sulit Berkonsentrasi Anak terlihat mengantuk, sulit fokus, mudah bingung, atau tampak tidak bersemangat saat beraktivitas.
Jika gejala-gejala tersebut muncul, dan diikuti dengan demam tinggi yang berlangsung selama beberapa hari, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Kebiasaan Di Sekolah Yang Dapat Meningkatkan Risiko Tipes (Demam Tifoid)
Selain gejala-gejala di atas, juga terdapat beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko terpapar tipes, terutama pada anak yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya kebersihan dan daya tahan tubuh mereka belum optimal:
1. Sering jajan sembarangan
2. Tidak mencuci tangan dengan semestinya
3. Sering berbagi makanan, minuman, atau alat makan dengan teman.
4. Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang baik di lingkungan sekolah
Meski terlihat sederhana, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko masuknya bakteri Salmonella typhi ke dalam tubuh.
Cara Mencegah Tipes (Demam Tifoid)
Kabar baiknya, saat ini Tipes (Demam Tifoid) merupakan penyakit yang dapat dicegah. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
  • Cuci tangan secara menyeluruh dan sesering mungkin menggunakan sabun, terutama setelah kontak dengan hewan peliharaan atau ternak, maupun setelah menggunakan toilet.
  • Cuci buah dan sayur dengan teliti, terutama jika akan dikonsumsi mentah. Jika memungkinkan, sayur dan buah harus dikupas.
  • Pastikan makanan dimasak dengan benar dan panas saat disajikan
  • Hindari susu mentah. Minumlah susu yang dipasteurisasi atau direbus.
  • Hindari es batu kecuali jika dibuat dari air yang terjamin keamanannya. Bila keamanan air minum diragukan, rebus air tersebut terlebih dahulu.
Vaksin Tifoid : Perlindungan Tambahan Yang Tidak Boleh Dilewatkan
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin tifoid untuk diberikan kepada anak usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun hingga anak berusia 18 tahun. Selain anak-anak, vaksin tifoid juga diperuntukkan bagi orang dewasa yang berisiko terserang tipes (demam tifoid).
Terdapat 2 jenis vaksin tifoid yang dapat digunakan untuk mencegah Tipes (Demam Tifoid) yaitu:
1. Vaksin tifoid suntikan
Vaksin tifoid dalam bentuk suntikan menggunakan kuman Salmonella typhi yang sudah dimatikan, kemudian disuntikan melalui otot. Jenis vaksin ini diberikan kepada anak-anak dengan rentang usia 2 tahun dan orang dewasa dengan dosis 1 kali setiap 3 tahun. Vaksin ini dapat menyebabkan efek samping berupa nyeri di lokasi suntikan, demam, dan nyeri otot.  
2. Vaksin tifoid oral
Vaksin dalam bentuk oral terbuat dari kuman Salmonella typhi hidup yang sudah dilemahkan. Vaksin ini tersedia dalam bentuk kapsul untuk dapat diminum dan dapat diberikan kepada anak-anak dengan rentang usia 6 tahun dan orang dewasa. Vaksin ini dapat menimbulkan efek samping sakit perut dan mual.
 
Manfaat Vaksin Tifoid Untuk Anak
  • Membantu melindungi anak dai risiko terkena tipes (demam tifoid)
  • Mengurangi risiko komplikasi akibat penyakit tipes (demam tifoid)
  • Memberikan perlindungan tambahan untuk anak yang sedang aktif beraktivitas di luar rumah, termasuk sekolah.
  • Melengkapi upaya pencegahan melalui penerapan pola hidup sehat
Mitos Fakta
Mitos Fakta
Tipes (demam tifoid) hanya disebabkan oleh makanan yang tidak higienis. Tipes (demam tifoid) disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dapat menular melalui makanan, minuman, yang dibawa oleh lalat hingga menghasilkan kontak langsung dengan kotoran penderita yang terinfeksi.
Vaksin tifoid memberikan perlindungan 100 % dari penyakit tipes (demam tifoid) Vaksin tifoid tidak melindungi tubuh 100 %, namun secara signifikan mengurangi risiko dan komplikasi. Daya tahan menurun seiring waktu sehingga vaksin harus diulang setiap 3 tahun.
Tipes (demam tifoid) hanya menyerang orang dewasa Anak-anak termasuk kedalam kelompok yang rentan untuk tertular tipes (demam tifoid) karena kekebalan tubuhnya rentan dan imunitas tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna.
Tipes (Demam Tifoid) memang dapat mengintai anak kapan saja, terutama saat mereka mulai aktif kembali di lingkungan sekolah. Namun, dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat serta melengkapi perlindungan melalui vaksinasi tifoid, risiko tersebut dapat diminimalkan dengan  optimal.
Jika anak mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari 3 hari, disertai gangguan pencernaan, lemas, atau perubahan perilaku seperti bingung dan sulit fokus, segera lakukan pemeriksaan kesehatan. Penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Jadi, sebelum si kecil kembali ke rutinitas sekolah, yuk pastikan kesehatannya terlebih dahulu. Konsultasikan kebutuhan vaksin tifoid dengan dokter kami, atau kunjungi Klinik Kimia Farma terdekat untuk mendapatkan perlindungan maksimal. Karena imun yang kuat hari ini adalah investasi untuk masa depan anak yang lebih cerah dan penuh semangat.
 

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group