Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Kanker Payudara Masih Jadi Ancaman Serius bagi Perempuan

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya seorang artis sekaligus komedian asal Tanah Air pada Jumat, 15 Agustus 2025 akibat kanker payudara. Kepergian beliau menjadi pengingat bahwa kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan di seluruh dunia.

Menurut data Global Cancer Statistics (2020) diperkirakan terdapat sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara pada perempuan di seluruh dunia. Angka tersebut menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling sering didiagnosis, bahkan melampaui kanker paru-paru. Dengan tingginya angka kasus baru, pentingnya bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit ini.

Faktor Risiko

Salah satu faktor risiko utama kanker payudara adalah faktor genetik bawaan. Beberapa gen yang berperan antara lain:

1. Gen BRCA 1

Gen BRCA 1 adalah singkatan dari Breast Cancer gene 1. Gen ini bisa disebut sebagai “penjaga DNA” karena bertugas menjaga stabilitas DNA. Jika terjadi Artinya, jika seorang wanita mewarisi mutasi BRCA1 dari orang tuanya, peluangnya terkena kanker payudara akan jauh lebih tinggi dibanding wanita pada umumnya. Mutasi ini juga sering ditemukan pada kanker yang tumbuh lebih cepat.

2. Gen BRCA 2

Gen BRCA 2 adalah singkatan dari Breast Cancer gene 2. Gen ini mirip dengan BRCA 1, gen ini juga bertugas memperbaiki kerusakan DNA dan integritas genom (menjaga kesehatan dan kestabilan susunan gen tubuh).  Begitu terjadi mutasi, akibatnya risiko kanker payudara yang diwariskan dari keluarga jadi lebih tinggi. Mutasi BRCA2 membuat risiko kanker payudara meningkat, terutama jika ada riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium.

3. Gen CHEK 2

Gen CHECK 2 adalah kepanjangan dari Checkpoint kinase 2, gen ini dikategorikan varian risiko menengah (intermediate-risk variant) yang menyumbang sekitar 5% dari risiko kanker payudara yang diturunkan. Mutasi CHEK2 memang tidak sekuat BRCA, tetapi tetap menambah risiko dibanding orang tanpa mutasi. Jadi, keberadaannya tetap perlu diperhatikan terutama bila ada faktor risiko lain, seperti: usia di atas 40-50 tahun, riwayat keluarga dengan kanker, penggunaan obat hormonal, obesitas, konsumsi alkohol, taupun merokok.

4. Gen TP53

Gen TP53 termasuk dalam kelompok gen berpenetrasi tinggi (high-penetrance genes). Gen ini berperan penting dalam perkembangan penyakit kanker payudara. Mutasi TP53 memang jarang terjadi, tetapi bila ada, risiko kanker bisa sangat tinggi karena gen ini adalah gen pengawas utama pertumbuhan sel.
 
Selain itu, faktor reproduksi dan gaya hidup dapat berpengaruh seperti riwayat menarke (mulai haid) dini, menopause yang terlambat, nulliparitas (tidak pernah melahirkan), riwayat keluarga dekat terkena kanker payudara, riwayat tidak penah hamil atau hamil pertama di usia>30 tahun, riwayat pengunaan kontrasepsi atau terapi hormon jangka panjang dan pola hidup yang tidak sehat 

Gejala Kanker Payudara

Kanker payudara biasanya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Hal inilah yang membuat banyak perempuan baru menyadari ketika sudah memasuki stadium lanjut. Kanker payudara biasanya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Hal inilah yang membuat banyak perempuan baru menyadari ketika sudah memasuki stadium lanjut. Meskipun tidak semua perubahan pada payudara berarti kanker, mengenali tanda-tandanya sejak dini sangat penting agar bisa segera diperiksa ke dokter. Secara umum, gejala kanker payudara dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

1. Benjolan payudara (Breast Lump):

Tanda yang paling umum adalah munculnya benjolan atau penebalan di jaringan payudara maupun area ketiak. Benjolan ini bisa terasa padat, tidak rata, atau berbeda dari jaringan sekitarnya. Sebagian benjolan dapat menimbulkan rasa nyeri, tetapi kebanyakan justru tidak menimbulkan keluhan sama sekali (National Breast Cancer Foundation, Inc., 2025).

2. Payudara Non-Benjolan (Non-Lump Breast):

Selain benjolan, perubahan lain juga perlu diwaspadai. Misalnya, perubahan pada puting (tiba-tiba masuk ke dalam mengeluarkan cairan tidak biasa, atau berdarah), perubahan kulit payudara (kemerahan, kulit tampak seperti kulit jeruk, atau mengerut), serta rasa nyeri yang berlebih/ tidak biasa, atau perubahan bentuk payudara. 

3. Non-Payudara (Non-breast)

Pada stadium lanjut, kanker payudara dapat menimbulkan keluhan di bagian tubuh lain, seperti benjolan di ketiak atau leher, nyeri punggung, nyeri dada, nyeri perut, sesak napas, penurunan berat badan, hingga rasa lelah yang bekepanjangan. Gejala ini biasanya muncul ketika kankerr sudah menyebar ke organ lain (metastasis).

Mitos & Fakta Kanker Payudara

Mitos Fakta
Kanker payudara hanya menyerang perempuan yang memiliki riwayat keluarga penderita kanker. Sebagian besar kasus kanker payudara justru terjadi pada perempuan tanpa riwayat keluarga penderita kanker.
Jika tidak ada benjolan, berarti aman dari kanker payudara. Kanker payudara tidak selalu ditandai dengan benjolan.
Benjolan di payudara pasti kanker. Tidak semua benjolan adalah kanker. Banyak yang jinak, seperti kista atau fibroadenoma. Tapi semua benjolan payudara tetap harus diperiksa dokter.
Kanker payudara hanya menyerang perempuan di usia tua. Meskipun risiko kanker payudara meningkat seiring pertambahan usia, bukan berarti perempuan muda dan pria terbebas dari kemungkinan terkena penyakit ini.
 

Pentingnya Deteksi Dini

Mengingat gejala kanker payudara sering kali tidak jelas pada ahap awal, maka deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting. Pemeriksaan payudara secara rutin, baik yang dilakukan sendiri maupun dengan bantuan tenaga medis, dapat membantu menemukan kelainan sejak dini. Beberapa metode pencitraan (imaging) yang berperan dalam skrining, deteksi dini, dan membantu penegakan diagnosiis kanker payudara, yaitu : 

1. Mammografi (X-ray Payudara)

Alat utama yang biasa digunakan untuk skrining payudara. Mammografi bekerja dengan radiasi pengion, pemeriksaaan ini cenderung hemat biaya. Berdasarkan komitmen Kementrian Kesehatan, deteksi dini kanker payudara melalui mamografi sebaiknya diberikan kepada perempuan usia 40 tahun ke atas, terutama di daerah yang sudah memiliki akses alat mamografi. Bila ada riwayat keluarga dan faktor risiko tinggi, pemeriksaan bisa dilakukan lebih awal. Karena ketersediaan mammogram di banyak kabupaten/ kota belum merata, perempuan juga dianjurkan melakukan SADARI dan SADANIS secara rutin sebagai langkah awal sebelum mamografi. Dengan melakukan skrining mamografi rutin 1-2 tahun pada kelompok usia yang direkomendasikan diharapkan kanker dapat terdeteksi pada stadium awal, meningkatkan peluang hidup dan pengobatan yang lebih efektif. 

2. Ultrasonografi (USG Payudara)

USG sering digunakan sebagai pelengkap mammografi, terutama pada perempuan dengan payudara padat atau area yang mencurigakan yang tidak terlihat pada mammogram. Pemeriksaan ini real-time, biaya terjangkau, dan tidak ada paparan radiasi. USG juga sering dipilih untuk wanita muda atau ibu hamil karena lebih aman. Pemeriksaan ini membantu dokter membedakan apakah benjolan berisi cairan (kista) atau berupa jaringan padat.

3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar detail payudara tanpa radiasi. Pemeriksaan ini sangat sensitif, tetapi belum bisa membedakan sifat benjolan jinak atau ganas. Biasanya MRI digunakan pada wanita dengan risiko tinggi kanker payudara (misalnya pembawa mutasi BRCA1/2) atau jika hasil mammografi/USG masih belum jelas. Karena biayanya cukup mahal dan tidak selalu tersedia, MRI tidak digunakan sebagai pemeriksaan rutin.
Setiap pemeriksaan ini memiliki peran penting untuk memastikan kondisi kesehatan payudara dan menentukan langkah penaganan yang tepat. Pemeriksaan tidak hanya ditunjukan bagi mereka yang sudah mengalami gejala, namun ditunjukan bagi siapa pun yang ingin melakukan skrining, deteksi dini,, dan diagnosis kanker payudara. 
Jangan tunggu hingga gejala muncul atau rasa sakit mulai mengganggu. Kunjungi Kimia Farma Laboratorium & Klinik terdekat dan lakukan pemeriksaan payudara secara rutin bersama tenaga medis yang berpengalaman. Dengan deteksi dini, peluang untuk sembuh lebih besar dan kualitas hidup dapat tetap terjaga.                  
  • Bhushan, A., Gonsalves, A., & Menon, J. U. (2021, May 14). Current State of Breast Cancer Diagnosis, Treatment, and Theranostics. pharmaceutics. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics13050723
  • Koo, M. o., Wagner, C. V., Abel, G. A., McPhail, S., Rubin, G. P., & Lyratzopoulos, G. (2017, May 23). Typical and atypical presenting symptoms of breast cancer and their associations with diagnostic intervals: Evidence from a national audit of cancer diagnosis. http://dx.doi.org/10.1016/j.canep.2017.04.010
  • National Breast Cancer Foundation, Inc. (2025, Juni 15). Breast Lump: Types, Causes, How to Check Them & Treatment. National Breast Cancer Foundation. Retrieved August 22, 2025, from https://www.nationalbreastcancer.org/breast-lump/
  • Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Laversanne, M., Soerjomataram, I., Jemal, A., & Bray, F. (2021, June). Global Cancer Statistics 2020: GLOBOCAN Estimates ofIncidence and Mortality Worldwide for 36 Cancers in 185Countries. 7. doi: 10.3322/caac.21660.
  • Wendt, C., Muranen, T. A., Mielikäinen, L., Thutkawkorapin, J., Blomqvist, C., Jiao, X., Ehrencrona, H., Tham, E., Arver, B., Melin, B., Kuchinskaya, E., Askmalm, M. S., Paulsson‑Karlsson, Y., Einbeigi, Z., Väppling, A. v. W., Kalso, E., Tasmuth, T., Kallioniemi, A., Aittomäki, K., … Lindblom, A. (2021, July 20). A search for modifying genetic factors in CHEK2:c.1100delC breast cancer patients. Scientific Reports. https://www.nature.com/articles/s41598-021-93926-x
  • Xiong, X., Zheng, L.-W., Ding, Y., Chen, Y.-F., Cai, Y.-W., Wang, L.-P., Huang, L., Liu, C.-C., Shao, Z.-M., & Yu, K.-D. (2025, February 19). Breast cancer: pathogenesis and treatments. https://www.nature.com/articles/s41392-024-02108-4

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group