Kimia Farma Laboratorium & Klinik
GELORA🔥 Promo Oktober untuk GARDA 🛡️ Terdepan Perlindungan Kesehatan💪🏻
Ternyata, Diet Bukan Sekadar Mengurangi Makan. Ini yang Perlu kamu Pahami
Menurunkan berat badan sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: “Diet apa yang paling efektif?”
Saat ini, berbagai metode diet semakin mudah ditemukan, mulai dari diet rendah karbohidrat, intermittent fasting, diet vegan, diet ketogenik, hingga berbagai pola makan yang populer di media sosial. Tidak sedikit pula orang yang mencoba mengikuti pola diet teman, keluarga, bahkan figur publik karena melihat hasil yang tampak menjanjikan.
Namun, apakah satu jenis diet benar-benar cocok untuk semua orang?
Jawabannya belum tentu.
Penurunan berat badan yang sehat bukan sekadar tentang mengurangi porsi makan atau mengejar angka tertentu di timbangan. Pola makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan zat gizi, kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, preferensi makanan, serta kemampuan seseorang untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, diet yang baik bukan hanya diet yang dapat membantu berat badan turun, tetapi juga diet yang dapat dijalani secara aman dan berkelanjutan. Di sinilah penerapan diet dengan pendampingan ahli menjadi sangat penting. Weight Care tidak semata-mata berorientasi pada penurunan angka di timbangan, tetapi pada pengelolaan berat badan yang sehat, realistis, terukur, dan berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar “turun berat badan”, melainkan membangun kebiasaan yang dapat terus dilakukan setelah target awal tercapai.
Diet Sehat Tidak Harus Berarti Diet yang Ekstrem
Pada dasarnya, pola makan sehat dapat memiliki banyak bentuk. WHO menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya memenuhi prinsip cukup, seimbang, beragam, dan moderat. Artinya, tubuh tetap mendapatkan energi, protein, vitamin, mineral, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah yang sesuai, sekaligus membatasi komponen yang jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit.
Karena kebutuhan setiap orang berbeda, tidak ada satu pola diet yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang.
Seseorang mungkin merasa cocok dengan pola makan tertentu, sementara orang lain justru kesulitan mempertahankannya. Begitu pula dengan kebutuhan seseorang yang memiliki diabetes, hipertensi, gangguan metabolik, alergi makanan, atau kondisi medis lainnya. Pola makan untuk masing-masing kondisi tentu perlu dipertimbangkan secara berbeda.
Jadi, tujuan diet bukan membuat seseorang “makan sesedikit mungkin”, melainkan menciptakan pola makan yang membantu mencapai defisit energi secara sehat tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi tubuh.
Lalu, Seperti Apa Pola Makan yang Baik untuk Menurunkan Berat Badan?
World Health Organization (WHO) menekankan bahwa pola makan sehat perlu membatasi asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total energi harian (idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan), serta membatasi konsumsi garam hingga kurang dari 5 gram per hari untuk mencegah hipertensi dan menurunkan risiko penyakit jantung serta stroke.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memperkenalkan panduan “Isi Piringku” sebagai acuan porsi makan harian, yaitu separuh piring diisi sayur dan buah, separuh lainnya diisi karbohidrat dan lauk-pauk sumber protein. Panduan ini juga menekankan pentingnya membatasi konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) sebagai bagian dari upaya menekan angka obesitas dan penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan sehari-hari:
1. Mengganti karbohidrat sederhana (nasi putih) dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau ubi, yang punya indeks glikemik lebih rendah dan bikin kenyang lebih lama.
2. Perbanyak protein berkualitas seperti dada ayam tanpa kulit, ikan, atau tempe, untuk menjaga massa otot selama proses penurunan lemak tubuh.
3. Pilih metode masak dikukus atau dipanggang dibanding digoreng dengan banyak minyak; gunakan minyak zaitun atau kanola secukupnya sebagai sumber lemak tak jenuh.
Kenapa Peran Dokter Gizi Itu Penting, Bukan Sekadar Ikut Diet viral
Kesehatan tubuh sangat dipengaruhi oleh pola makan yang dijalani setiap hari. Sayangnya, banyak orang masih mengabaikan pentingnya gizi seimbang dan memilih makanan berdasarkan kebiasaan atau selera saja, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan jangka panjang.
Di sinilah peran dokter gizi klinik menjadi penting. Konsultasi dengan dokter gizi membantu menyusun pola makan yang dipersonalisasi berdasarkan beberapa hal:
1. Pemantauan yang teratur & evaluasi kemajuan:
Weight Care: Menemani dari Fase Turun sampai Fase Bertahan
Melihat betapa kompleksnya proses diet, jelas bahwa penurunan berat badan yang aman dan sehat tidak bisa hanya mengandalkan “mengurangi pola makan”. Tapi juga dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan kondisi medis, pola makan yang dipersonalisasi, aktivitas fisik, hingga pendampingan berkelanjutan, bahkan setelah target angka di timbangan tercapai.
Inilah yang menjadi dasar hadirnya layanan Weight Care di Kimia Farma, program pendampingan penurunan berat badan dengan pendekatan klinis yang tidak berhenti di fase “penurunan berat badam” saja. Namun, Program ini juga didampingi oleh tenaga medis profesional yang akan menemani perjalananmu menuju bentuk tubuh yang ideal dengan sehat dan berkelanjutan, mulai dari evaluasi kondisi tubuh, penyusunan pola diet sesuai kondisi tubuh, hingga pemantauan berkelanjutan untuk membantu menjaga hasil yang sudah dicapai agar berat badan tidak kembali naik.
Karena pada akhirnya, keberhasilan program penurunan berat badan bukan diukur dari seberapa cepat angka di timbangan turun, tapi dari seberapa lama hasil itu bisa dipertahankan.
- Terdapat evaluasi berkala untuk BB, Lemak tubuh, massa otot, lingkar pinggang
- Diet disesuaikan terus sesuai hasil dan respons tubuh.
- Menghindari pola penerapan metode diet yang menyesatkan
- Memberikan pemahaman mengenai komposisi makanan, cara membaca label gizi, dan mengatur cara diet yang sesuai dengan kondisi tubuh.
- menghindari penerapan diet ekstrem yang dapat mengakibatkan tubuh kekurangan zat
- Membantu membangun kebiasaan makan makanan sehat dan real food
| Mitos | Fakta |
| Mengikuti pola diet orang lain yang sudah terbukti berhasil, pasti akan berhasil juga untuk diri sendiri. | Kebutuhan kalori, kondisi medis, gaya hidup, dan respons tubuh setiap orang berbeda, sehingga rencana diet idealnya dipersonalisasi, bukan disamaratakan. |
| Makanan yang mengandung lemak harus dihindari saat diet | Tidak. Lemak merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan jumlahnya, dengan membatasi lemak jenuh dan trans serta memilih sumber lemak tak jenuh secara proporsional. |
| Kelebihan berat badan (obesitas) merupakan penyakit turunan | Faktor genetik memang berpengaruh terhadap berat badan, namun hanya sekitar 20–30% saja. Sisa 70%–80% akan dipengaruhi oleh gaya hidup yang dijalani sehari-hari individu. |
Referensi
Catenacci, V. A., Ogden, L. G., Stuht, S., Phelan, S., Wing, R. R., Hill, J. O., & Wyatt, H. R. (2008). Physical activity patterns in the National Weight Control Registry. Obesity, 16(1), 153–161. https://doi.org/10.1038/oby.2007.6
Elfhag, K., & Rössner, S. (2005). Who succeeds in maintaining weight loss? A conceptual review of factors associated with weight loss maintenance and weight regain. Obesity Reviews, 6(1), 67–85. https://doi.org/10.1111/j.1467-789X.2005.00170.x
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, December 13). Isi Piringku: Pedoman makan kekinian orang Indonesia. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Montesi, L., El Ghoch, M., Brodosi, L., Calugi, S., Marchesini, G., & Dalle Grave, R. (2016). Long-term weight loss maintenance for obesity: A multidisciplinary approach. Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity: Targets and Therapy, 9, 37–46.
https://doi.org/10.2147/DMSO.S89836
Thomas, J. G., Bond, D. S., Phelan, S., Hill, J. O., & Wing, R. R. (2014). Weight-loss maintenance for 10 years in the National Weight Control Registry. American Journal of Preventive Medicine, 46(1), 17–23. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2013.08.019
van Baak, M. A., & Mariman, E. C. M. (2023). Obesity-induced and weight-loss-induced physiological factors affecting weight regain. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 655–670. https://doi.org/10.1038/s41574-023-00887-4
World Health Organization. (2026, January 26). Healthy diet.
World Health Organization. (2026, May 11). Sodium reduction.
Kimia Farma Apotek. (2026, June 4). Pengen langsing & tetap sehat? Buktikan perubahannya! Atasi bersama Weight Care by Kimia Farma Apotek.


