Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨🍴Di sini ada Tongseng, Rawon, Empal dan Gulai yang dijamin SEHAT 🍲🥩😋
Demam Tak Kunjung Sembuh? Kenali Pemeriksaan Laboratorium untuk Infeksi Dengue dan Tifoid
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
Tinggal di negara tropis seperti Indonesia membuat masyarakat lebih rentan terserang dengan berbagai penyakit infeksi. Tak heran jika demam menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dirasakan oleh masyarakat. Panas tinggi, menggigil, lemas, dan tubuh terasa tidak karuan sering dianggap sebagai gejala masuk angin atau flu biasa. Tapi, tahukah kamu bahwa demam yang berlangsung lebih dari 3 hari tanpa menunjukkan tanda-tanda membaik bisa jadi pertanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius? Jangan dulu anggap remeh, kita perlu lebih waspada. Kondisi ini bisa jadi bukan sekadar flu biasa, mungkin gejala awal dari penyakit infeksi berbahaya seperti Demam Dengue (DD)/Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Demam Tifoid. Kedua penyakit ini memang kerap menimbulkan gejala yang mirip di awal, seperti demam tinggi, lemas, nyeri otot, dan gangguan pencernaan. Namun, penyebab perjalanan penyakit hingga cara pengobatannya sangat berbeda. Di sinilah pentingnya peran pemeriksaan laboratorium, agar diagnosis bisa ditegakkan dengan akurat dan penanganan dilakukan sejak dini. Apa itu Demam Dengue (DD)/Demam Berdarah Dengue (DBD)? DD/DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya dapat berkembang cepat dan bisa memasuki fase kritis dalam beberapa hari, terutama pada hari ke-2 hingga ke-7. Demam dengue adalah bentuk ringan dari infeksi virus dengue tanpa disertai gejala pendarahan. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah bentuk berat dan berisiko komplikasi serius, seperti kondisi syok. Tanpa pemantauan medis yang tepat, kondisi ini bisa mengancam nyawa. Gejala DBD meliputi:
- Demam tinggi mendadak (bisa mencapai 39–40°C) dan menggigil
- Nyeri otot dan sendi hebat (sering disebut “breakbone fever”)
- Sakit kepala parah, terutama di belakang mata
- Mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan
- Bintik-bintik merah pada kulit (petekie) karena kebocoran pembuluh darah
- Trombosit (keping darah) yang turun drastis (≤100.000 sel per mm3)
- Demam bertahap yang makin meningkat setiap hari tanpa turun signifikan pada malam hari. Demam yang berlangsung lebih dari seminggu dan tidak merespon terhadap obat penurun panas.
- Gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit
- Perut kembung, mual, dan nyeri di ulu hati
- Lidah berwarna putih di bagian tengah
- Lemah, lesu berlebihan, dan sulit berkonsentrasi
- Denyut jantung melambat meski suhu tinggi (bradikardia relatif)
- Penurunan berat badan atau nafsu makan
- Jenis infeksi (virus atau bakteri)
- Stadium penyakit (fase akut atau penyembuhan)
- Adanya penurunan trombosit atau gangguan sistem imun
- Risiko komplikasi seperti perdarahan, syok, dehidrasi, atau infeksi sistemik
- Isi Paket Pemeriksaan:
- Hematologi Lengkap: Menilai jumlah trombosit, leukosit, hematokrit, dan hemoglobin. Penurunan trombosit (<150.000) dan leukosit rendah bisa menjadi tanda khas infeksi dengue. Tujuannya adalah untuk melihat adanya kebocoran komponen darah, kekentalan darah, dan sebagai acuan waktu yang tepat pasien dirawatinapkan untuk observasi medis yang lebih ketat.
- NS1 Antigen Dengue: Tes spesifik untuk mendeteksi antigen virus dengue dalam 1–3 hari pertama demam. Hasil positif menunjukkan infeksi aktif.
- Anti-Dengue IgG & IgM: Mengetahui status kekebalan tubuh. IgM positif menandakan infeksi baru, IgG menunjukkan infeksi lama atau berulang
- Persyaratan pasien: Tidak ada (tidak perlu puasa)
- Waktu hasil pemeriksaan (WSHP): 1 hari
- Harga: Rp. 1.002.000,-
- Isi Paket Pemeriksaan:
- Tes antibodi terhadap Salmonella typhi (biasanya berupa Widal Test atau tes cepat seperti TUBEX atau Typhidot) untuk mendeteksi respons imun terhadap bakteri penyebab tifus. Tes widal merupakan skrining awal untuk infeksi tifoid, terutama di fasilitas kesehatan dengan sarana laboratorium terbatas. Umumnya dilakukan pada hari ke-5 atau lebih setelah demam karena antibodi butuh waktu untuk terbentuk. TUBEX atau Typhidot memiliki akurasi lebih baik daripada Widal dan dapat mendeteksi/menskrining infeksi akut secara lebih dini.
- Beberapa fasilitas juga menambahkan pemeriksaan darah lengkap untuk melihat tanda-tanda infeksi sistemik.
- Persyaratan pasien: Tidak ada
- Waktu hasil pemeriksaan (WSHP): 1 hari
- Harga: Rp. 555.000,-
- Cegah perkembangbiakan nyamuk dengan 3M: (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang)
- Menghindari gigitan nyamuk misalnya dengan menggunakan kelambu atau lotion anti-nyamuk saat tidur
- Perhatikan lingkungan sekitar rumah seperti pot bunga dan talang air agar bebas dari genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk.
- Konsumsi makanan yang dimasak matang dan bersih
- Selalu mencuci tangan sebelum makan
- Hindari jajan sembarangan
- Gunakan air bersih untuk memasak/memproses makanan,minuman, maupun mencuci tangan.
Referensi
- Amritha J, Raveenthiran V. Concurrent Scrub Typhus and Dengue Fever Mimicking Acute Appendicitis. Indian Pediatr. 2022 Nov 15;59(11):885-886. https://doi.org/10.1007/s13312-022-2650-y
- Centers for Disease Control and Prevention. (2021, April 16). Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) 2010 Case Definition. Retrieved From: https://ndc.services.cdc.gov/case-definitions/dengue-hemorrhagic-fever 2010/#:~:text=Clinical%20Description,effusion%2C%20or%20ascites%20or%20hypoproteinemia.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024, April 24). Clinical Guidance for Typhoid Fever and Paratyphoid Fever Retrieved from: https://www.cdc.gov/typhoid-fever/hcp/clinical-guidance/index.html
- Kemenkes. (2025). Demam Berdarah Dengue. Retrieved from: https://ayosehat.kemkes.go.id/topik/demam-berdarah-dengue
- Kemenkes. (2025). Tipus (Penyakit Tipes). Retrieved from: https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/infeksi-enterik/tipus-penyakit-tipes
- Mahato, A. K., Shrestha, N., Gharti, S. B., & Shah, M. (2022). Typhoid Fever among Patients Diagnosed with Dengue in a Tertiary Care Centre: A Descriptive Cross-sectional Study. JNMA; journal of the Nepal Medical Association, 60(252), 714–717. https://doi.org/10.31729/jnma.7624
- Mohapatra, R. K., Al-Haideri, M., Mishra, S., Mahal, A., Sarangi, A. K., Khatib, M. N., … & Sah, R. (2024). Linking the increasing epidemiology of scrub typhus transmission in India and South Asia: are the varying environment and the reservoir animals the factors behind?. Frontiers in Tropical Diseases, 5, 1371905. https://doi.org/10.3389/fitd.2024.1371905


