Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Kenapa Tes HbA1c Jadi Senjata Ampuh Lawan Diabetes?

Anda pasti pernah cepat merasa capek padahal aktivitas nggak seberapa, atau gampang haus, sering buang air kecil dan lapar lagi walaupun baru saja makan . Terkadang Anda mengira itu hal biasa karena kurang tidur atau terlalu sibuk. Jangan-jangan tubuh anda sedang kasih kode keras soal gula darah.
Masalahnya, pemeriksaan gula darah hanya memberi gambaran sesaat. Padahal, kesehatan perlu dipantau untuk jangka panjang, bukan hanya hari ini saja. Di sinilah tes HBA1c berperan penting sebagai solusi. 
Apa itu Tes HbA1c?
Tes HbA1c adalah pemeriksaan darah yang menunjukkan rata-rata kadar gula anda selama tiga bulan terakhir. Caranya dengan mengukur seberapa banyak gula (glukosa) yang menempel pada hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Karena usia sel darah merah sekitar 120 hari, hasil tes ini bisa memberi gambaran jangka panjang, bukan hanya kondisi sesaat setelah makan atau berpuasa.
Singkatnya, tes HbA1c membantu dokter melihat apakah kadar gula Anda stabil atau sering naik-turun. Tes ini sangat berguna untuk mendeteksi risiko diabetes sekaligus memantau keberhasilan terapi.
Manfaat tes HbA1c
Tes HbA1c memiliki beberapa manfaat penting sebagai pencegahan, diagnosis, dan manajemen diabetes:
1. Dapat menilai kontrol glikemik dalam jangka panjang
Berbeda dengan pemeriksaan gula darah yang hanya sesaat, tes HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula selama beberapa bulan terakhir dan hasilnya lebih stabil serta realistis. Namun, HbA1c tidak dapat menilai fluktuasi cepatnya naik-turun gula darah (glycemic variability). Sehingga pada kasus tertentu, evaluasi tambahan seperti Continuous Glucose Monitoring (CGM) tetap diperlukan, terutama bagi penderita diabetes tipe 1 atau pasien yang mengalami hipoglikemia berulang.
2. Memprediksi risiko komplikasi diabetes
Penelitian menunjukkan, semakin tinggi hasil tes HbA1c, semakin besar risiko komplikasi seperti kerusakan ginjal (nefropati), saraf (neuropati), dan mata (retinopati).
3. Sebagai alat medis  yang praktis dan diakui global
WHO telah mengakui tes HbA1c sebagai kriteria diagnostik diabetes. Alasannya, tes ini tidak mengharuskan pasien berpuasa dan hasilnya cenderung lebih stabil daripada pengukuran glukosa plasma sewaktu atau puasa. Menurut standar internasional seperti ADA dan WHO, HbA1c dapat digunakan untuk diagnosis diabetes jika laboratorium menggunakan metode tersertifikasi NGSP/IFCC. Nilai HbA1c ≥6,5% pada dua pemeriksaan terpisah dapat menunjukkan adanya diabetes, kecuali terdapat kondisi medis yang memengaruhi hasil. Untuk prediabetes, rentang nilai umumnya 5,7–6,4%. Sementara itu, nilai di bawah 5,7% dianggap normal, meski bukan berarti bebas risiko sehingga tetap diperlukan gaya hidup sehat serta evaluasi rutin.
4. Membantu dokter dalam mengevaluasi efektivitas terapi
Hasil tes HbA1c membantu dokter dalam menilai apakah perubahan gaya hidup, obat, atau intervensi medis sudah efektif. Hal ini untuk mewaspadai adanya diabetisi yang mungkin tricky, meminum obat antidiabetes sebelum dilakukan pemeriksaan gula darah. Hasil HbA1c menjadi lebih dapat dipercaya karena merupakan kontrol jangka panjang.
Target HbA1c berbeda bagi setiap individu. Sebagian besar penderita diabetes dewasa disarankan mempertahankan nilai HbA1c <7%. Pada lansia sehat, target <7,5% dapat diterapkan. Bagi lansia dengan penyakit penyerta atau risiko hipoglikemia, target dapat dilonggarkan menjadi <8–8,5%. Pada ibu hamil yang sudah menderita diabetes sebelum kehamilan, target lebih ketat (<6–6,5%) dapat dipertimbangkan jika aman dan tidak menimbulkan hipoglikemia.
Perbedaan Tes HbA1c dengan Pemeriksaan Gula Darah
Banyak orang mengira tes HbA1c sama saja dengan cek gula darah biasa. Padahal, keduanya berbeda:
  • Tes gula darah biasa hanya menampilkan kondisi sesaat, misalnya saat anda belum makan (puasa) atau dua jam setelah makan. Hasilnya bisa naik-turun tergantung pola makan atau aktivitas sebelum tes.
  • Tes HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula dalam 3 bulan terakhir. Jadi, hasilnya lebih stabil dan tidak mudah dipengaruhi oleh faktor sementara.
Keduanya saling melengkapi. Tes gula darah cocok untuk pemeriksaan cepat, sedangkan tes HbA1c penting untuk menilai pola jangka panjang. Disisi lain, tes HbA1c juga memiliki keterbatasan. Tes ini tidak bisa dijadikan patokan untuk semua kondisi, misalnya pada diabetes gestasional atau pada kasus diabetes yang baru muncul kurang dari 2 bulan.
Tabel Kadar HbA1c dan Interpretasinya
 Kategori HbA1c(%) Makna Klinis
Terlalu rendah < 4,0 Risiko hipoglikemia dan kematian meningkat pada pasien dengan penyakit berat, malnutrisi, atau diabetes yang overtreated.
Rendah (Waspada) 4,1-4,4 Masih aman kalau sehat dan aktif, tapi pantau gejala.
Ideal Sehat 4,5-5,2 Optimal metabolik, aktif, tanpa insulin resistance. Khusus untuk penilaian resistensi insulin tidak bisa dinilai hanya berdasarkan HbA1c, harus dikombinasikan dengan OGTT, HOMA-IR, dan lingkar perut.
Normal Klinis < 5,7 Batas sebelum prediabetes.
Prediabetes 5,7-6,4 Resistensi insulin, butuh perubahan gaya hidup.
Diabetes > 6,5 Butuh perawatan. Hubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk penapisan kemungkinan diagnosis diabetes.
Kapan Harus Menjalani Tes HbA1c?
Bagi anda yang sudah didiagnosis diabetes, tes HbA1c menjadi hal yang wajib. Idealnya, tes ini dilakukan setiap 3 bulan sekali, atau minimal setahun sekali untuk memantau kondisi gula darah secara lebih menyeluruh.
Bukan hanya penderita diabetes, orang dengan risiko tinggi maupun yang pernah mendapat diagnosis prediabetes juga sangat dianjurkan menjalani pemeriksaan ini.
Beberapa tanda awal yang patut diwaspadai, antara lain:
  • Rasa haus berlebihan meski sudah banyak minum.
  • Sering buang air kecil hingga mengganggu tidur malam.
  • Mudah merasa lelah.
  • Mulai mengalami gangguan penglihatan seperti pandangan yang mengabur.
  • Penurunan berat badan yang cukup besar
Mitos dan Fakta Mengenai Tes HbA1c
Mitos  Fakta
Tes HbA1c memerlukan puasa. Tes HbA1c tidak perlu puasa sama sekali. Tes ini bisa dilakukan kapan saja ataupun setelah makan. Itu karena tes HbA1c tidak mengukur gula darah sesaat, melainkan rata-rata gula darah 2-3 bulan terakhir. Jadi lebih praktis dan fleksibel.
Tes HbA1c hanya untuk penderita diabetes. Tidak juga, tes HbA1c ini dapat dipakai untuk monitoring pasien diabetes. Bahkan orang yang belum diabetes memiliki risiko tinggi (obesitas, hipertensi, ataupun riwayat keluarga) juga bisa dianjurkan tes HbA1c.
Tes HbA1c sama akuratnya dengan tes gula darah di rumah. Alat cek gula darah (glukometer) sangat berguna untuk pemantauan harian. Namun, hasilnya bisa dipengaruhi banyak faktor seperti kebersihan tangan, cara pakai, bahkan kualitas strip. Tes HbA1c di laboratorium lebih stabil dan akurat untuk gambaran jangka panjang karena tidak terpengaruh fluktuasi harian atau kesalahan teknis kecil. Jadi, keduanya saling melengkapi. Glukometer bagus untuk cek harian, tes HbA1c bagus untuk laporan bulanan tubuh anda.
Tes ini tidak bisa dijadikan patokan untuk semua kondisi, misalnya pada diabetes gestasional atau kasus diabetes baru muncul kurang dari 2 bulan. Perlu ditketahui kondisi lain di mana HbA1c bisa saja tidak akurat, seperti:
  • anemia defisiensi besi
  • hemoglobinopati (thalassemia, sickle cell disease)
  • penyakit ginjal kronis
  • pasien transfusi darah
  • kehamilan trimester 2-3
Terlihat sepele jika tidak peduli dengan gula darah, justru dari hal kecil itu dapat memunculkan masalah besar tanpa kita sadari. Yuk, lakukan tes HbA1c di Kimia Farma Laboratorium & Klinik agar anda tahu kondisi gula darah dalam jangka panjang.
Mulai langkah kecil hari ini untuk cegah risiko besar di masa depan. Cek artikel kesehatan lainnya dan jangan lewatkan promo menarik khusus bulan ini!

Cek artikel kesehatan lainnya dan jangan lewatkan promo menarik khusus bulan ini!

   
  • American Diabetes Association. (2023). Standards of medical care in diabetes—2023. Diabetes Care, 46(Supplement_1), S1–S154. https://doi.org/10.2337/dc23-SINT
  • Davies, M. J., D’Alessio, D. A., Fradkin, J., Kernan, W. N., Mathieu, C., Mingrone, G., Rossing, P., Tsapas, A., Wexler, D. J., & Buse, J. B. (2018). Management of hyperglycemia in type 2 diabetes, 2018: A consensus report by the American Diabetes Association (ADA) and the European Association for the Study of Diabetes (EASD). Diabetes Care, 41(12), 2669–2701. https://doi.org/10.2337/dci18-0033
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pentingnya pemeriksaan HbA1C. Kementerian Kesehatan RI. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4047/pentingnya-pemeriksaan-hba1c
  • Zelnick, L. R., Batacchi, Z., Ahmad, I., Heagerty, P. J., Tuttle, K., Rafoth, R. J., Hirsch, I. B., Himmelfarb, J., & de Boer, I. H. (2018). Continuous glucose monitoring and use of alternative markers to assess glycemia in chronic kidney disease. Diabetes Care, 41(3), 568–575. https://doi.org/10.2337/dc17-1672
 

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group