Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Pria Wajib Tahu: Kapan dan Mengapa Harus Analisa Sperma

Seberapa sering Anda memikirkan kesehatan reproduksi? Kalau jawabannya “jarang” atau “nggak pernah”, Anda nggak sendirian. Padahal, kebiasaan sederhana seperti merokok di sela meeting atau begadang bisa diam-diam mempengaruhi kualitas sperma Anda. Bahkan, kesehatan reproduksi pria masih dianggap sensitif sehingga jarang dibahas secara terbuka. Padahal, analisa sperma (spermiogram) merupakan pemeriksaan penting yang memberikan informasi mengenai kesuburan dan kesehatan reproduksi pada pria.

Apa Itu Pemeriksaan Analisa Sperma?

Analisa sperma adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mengevaluasi kualitas dan kuantitas dari cairan mani (sperma). Pemeriksaan ini sebagai salah satu tes dasar penting yang memberikan gambaran mengenai kemampuan reproduksi pada pria. Menurut World Health Organization (WHO) 2021, analisis sperma mencakup berbagai parameter penting, sebagai berikut:
  • Volume semen merupakan jumlah cairan sperma yang keluar saat ejakulasi, diukur dalam mililiter. Menurut standar WHO 2021, volume normal minimal 1,4 ml per ejakulasi. Bayangkan seperti mengukur air dalam sendok teh, volume yang terlalu sedikit atau berlebihan bisa menandakan gangguan pada kelenjar prostat atau vesikula seminalis yang memproduksi cairan sperma.
  • Konsentrasi sperma menunjukkan berapa banyak sel sperma dalam setiap 1 ml cairan sperma, dengan nilai normal minimal 16 juta sperma per mililiter. Sperma yang terlalu sedikit (oligospermia) membuat peluang membuahi kecil, sedangkan jika terlalu banyak (polispermia), kualitas tiap sperma justru bisa menurun.
  • Motilitas (pergerakan sperma) merupakan kemampuan sperma untuk bergerak aktif, terutama bergerak maju progresif. Menurut WHO 2021, menetapkan standar minimal 30% sperma harus bergerak maju dan total 42% sperma bergerak.
  • Morfologi (bentuk sperma) merupakan persentase sperma yang memiliki bentuk normal dan sempurna. Meskipun hanya memerlukan minimal 4% sperma berbentuk normal, parameter ini penting karena sperma dengan bentuk abnormal sulit membuahi sel telur.
  • Viabilitas sperma merupakan persentase sperma yang masih hidup dalam sampel cairan sperma, dengan nilai normal minimal 54%. Pemeriksaan ini menggunakan pewarna khusus yang hanya diserap sperma mati, sehingga dapat dibedakan mana yang hidup dan mati. Seperti memeriksa kesegaran ikan di pasar, sperma yang mati tidak dapat membuahi sel telur meski bentuk dan gerakannya normal.
  • pH cairan sperma menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan dengan nilai normal 7,2-8,0 (sedikit basa/alkali). Cairan sperma adalah campuran sekresi prostat yang asam dan vesikula seminalis yang basa. pH yang tepat sangat penting karena membantu sperma bertahan dalam lingkungan asam vagina dan mencapai sel telur dengan optimal.

Mengapa Analisa Sperma Penting?

1. Mendeteksi Kesuburan Sejak Dini
Sebuah review literature yang dipublikasikan di PubMed Central (2015), mengungkapkan bahwa faktor pria berkontribusi terhadap 40-50% dari keseluruhan kasus kemandulan (infertilitas) pada pasangan suami istri. Analisa sperma dapat mengidentifikasi berbagai kondisi yang mempengaruhi kesuburan, seperti:
  • Oligospermia (Konsentrasi sperma rendah), merupakan kondisi dimana jumlah sperma dalam cairan mani kurang dari normal. Menurut standar medis, oligospermia terjadi ketika konsentrasi sperma kurang dari 15 juta per mililiter cairan sperma.
  • Hiperspermia / Polispermia, jumlah sperma terlalu tinggi (>250 juta/ml) bisa dikaitkan dengan kualitas sperma yang justru semakin rendah.
  • Asthenozoospermia (Motilitas sperma buruk), terjadi ketika kurang dari 32% sperma bergerak secara progresif (maju ke depan). Sperma yang bergerak lambat atau tidak bergerak sama sekali akan kesulitan mencapai dan membuahi sel telur. Penyebab asthenozoospermia dapat berupa infeksi, kelainan genetik, atau gangguan pada struktur ekor sperma yang berfungsi sebagai “mesin penggerak”.
  • Teratospermia (Morfologi sperma abnormal), kondisi di mana bentuk sperma tidak normal atau cacat. Sperma normal seharusnya memiliki kepala oval, leher yang proporsional, dan ekor yang lurus. Namun pada teratozoospermia, sperma dapat memiliki kepala yang terlalu besar atau kecil, berkepala ganda, atau ekor yang bengkok. Faktor penyebab meliputi infeksi, paparan racun, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres oksidatif.
  • Azoospermia (Tidak ada sperma dalam cairan mani), merupakan kondisi paling serius di mana sama sekali tidak ada sperma dalam cairan mani yang dikeluarkan Azoospermia dapat disebabkan oleh dua hal: pertama, testis tidak memproduksi sperma sama sekali (azoospermia non-obstruktif), atau kedua, sperma diproduksi tetapi tersumbat di saluran reproduksi (azoospermia obstruktif). Meski terdengar menakutkan, kondisi ini masih dapat diatasi dengan teknik reproduksi berbantu seperti IVF atau ICSI.
  • Aspermia, kondisi ketika tidak ada cairan mani sama sekali saat ejakulasi. Penyebabnya dapat berupa ejakulasi retrograd, gangguan prostat, atau operasi tertentu.
2. Strategi Pengobatan yang Tepat
Melalui analisa sperma, dokter dapat membantu dalam menentukan jenis pengobatan yang paling efektif, mulai dari perubahan gaya hidup, terapi medis, hingga teknik reproduksi berbantu.
3. Evaluasi Kesehatan Secara Umum
Kualitas sperma dapat menjadi indikator kesehatan umum pria. Studi kohort Denmark yang dilakukan Latif et al. (2017), mengungkapkan bahwa pria yang memiliki kualitas sperma rendah cenderung lebih berisiko terkena berbagai gangguan kesehatan, seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.
4. Perencanaan Keluarga yang Lebih Baik
Sebagai seorang pria, mengetahui kondisi kesuburan sperma dapat membuat keputusan yang lebih informatif mengenai perencanaan keluarga dan waktu yang tepat untuk memiliki anak.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sperma

Penelitian mengidentifikasi berbagai elemen yang dapat mempengaruhi kualitas sperma pria. Berikut ini adalah aktivitas yang secara ilmiah telah terbukti berpengaruh terhadap kualitas sperma:
1. Merokok
Berdasarkan penelitian, merokok itu dapat membahayakan sistem reproduksi pria dan wanita. Pada pria, merokok terbukti sangat mengurangi jumlah dan daya hidup sel-sel sperma. Selain itu, merokok dapat menurunkan konsentrasi dan motilitas sperma.
2. Konsumsi alkohol berlebihan
Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dapat secara langsung mempengaruhi hormon testosteron. Selain itu, mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan menyebabkan terjadinya pengurangan testosteron serta dapat mendatangkan penyakit. Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan menyebabkan terjadinya pengurangan testosteron serta dapat mendatangkan penyakit.
3. Obesitas
Pria  yang  mengalami  obesitas  mempunyai peluang lebih    besar    menjadi    mandul (infertil), karena berkurangnya  hormon  testosteron  dan  produksi hormon  pertumbuhan. Kekurangan tersebut dapat ditanggulangi dengan membatasi konsumsi makanan berkalori tinggi.
4. Stres
Menurut World Health Organization (WHO),  sebanyak 80% pria  infertil  disebabkan  oleh  stres. Faktor tersebut sering diabaikan namun memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan reproduksi pria. Ketika tubuh mengalami stres berkepanjangan, kadar hormon kortisol akan meningkat dan dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi, termasuk testosteron.
5. Faktor lingkungan
Paparan suhu panas seperti sauna, sering menaruh laptop di pangkuan, berkendara mobil (pada jenis kendaraan dengan mesin tepat dibawah kursi pengendara, seperti truk) terlalu lama sangat berpengaruh pada kualitas sperma.

Mitos dan Fakta Seputar Analisa Sperma

Mitos Fakta
Sperma encer berarti tidak subur Konsistensi sperma yang encer tidak selalu menunjukkan ketidaksuburan. Kekentalan cairan sperma dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya:
  • Frekuensi ejakulasi 
  • Hidrasi tubuh
  • Usia
  • Kondisi kesehatan umum. Yang lebih penting untuk dinilai adalah konsentrasi sperma, motilitas (pergerakan), dan morfologi (bentuk) sperma, bukan hanya konsistensinya.
  • Gaya hidup dan faktor lingkungan.
 
Usia pria tidak mempengaruhi kualitas sperma Meskipun pria dapat memproduksi sperma sepanjang hidup, kualitasnya menurun seiring bertambahnya usia:
  • Volume: Menurun sekitar 0,03 ml per tahun
  • Motilitas: Menurun 0,6-0,9% per tahun
  • Morfologi: Persentase bentuk normal menurun seiring usia
  • DNA: Risiko kerusakan genetik meningkat
Untuk itulah analisa sperma dapat dilengkapi dengan pemeriksaan fragmentasi DNA sperma, karena sperma dengan DNA rusak bisa gagal membuahi atau meningkatkan risiko keguguran.
Pemeriksaan kualitas sperma dikhususkan untuk pria yang telah menikah Analisa sperma direkomendasikan bagi semua pria yang ingin memeriksa kesuburan, termasuk yang belum menikah atau sedang merencanakan kehamilan. Pemeriksaan ini juga penting untuk mendeteksi masalah kesehatan reproduksi.
Hasil analisa sperma normal menjamin kehamilan Hasil normal tidak selalu menjamin kehamilan karena kesuburan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kesehatan pasangan, gaya hidup, dan kondisi medis lainnya.
Masturbasi sebelum tes mengurangi kualitas sperma

Dianjurkan 2–7 hari tidak melakukan ejakulasi (baik melalui hubungan seksual maupun masturbasi). Jika terlalu singkat (<2 hari), jumlah sperma bisa rendah. Jika terlalu lama (>7 hari), sperma cenderung mati atau tidak bergerak dengan baik.

Adapun persiapan analisa sperma lainnya :
  • Hindari konsumsi alkohol, rokok, & obat tertentu. Konsultasikan ke dokter jika sedang mengkonsumsi obat rutin.
  •  Hindari paparan panas berlebihan seperti sauna, berendam air panas, atau kebiasaan menaruh laptop di pangkuan karena dapat menurunkan kualitas sperma sementara. Dianjurkan untuk menghindari paparan panas minimal hari sebelum pemeriksaan.
  • Tidak sedang demam, infeksi, atau  sakit berat dalam 2-3 minggu terakhir, hasil bisa tidak akurat (demam bisa menurunkan kualitas sperma sementara).
  • Sampaikan ke dokter jika anda memiliki riwayat penyakit, konsumsi obat, atau operasi sebelumnya (misalnya operasi varikokel, prostat, atau hernia). 
 
Volume sperma rendah bisa menjadi tanda ketidaksuburan Volume sperma rendah (<1,5 mL) bisa jadi tanda masalah, tetapi kesuburan juga ditentukan oleh konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma.
Analisa sperma bisa mendiagnosis semua penyebab infertilitas pria Analisa sperma adalah langkah awal, tetapi penyebab infertilitas mungkin memerlukan tes tambahan seperti hormonal, genetik, atau USG.
  Melakukan analisa sperma merupakan langkah awal bagi pria yang ingin merencanakan keturunan. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan kesuburan pria serta pemeriksaan analisa sperma mampu memberikan informasi penting tentang kondisi kesehatan reproduksi pria.
Jangan khawatir, prosedur pengambilan sampel sperma sebenarnya sederhana dan aman. Umumnya dilakukan dengan cara masturbasi di ruangan khusus yang disediakan laboratorium, sehingga privasi Anda tetap terjaga. Bila dilakukan di rumah, cukup gunakan wadah steril yang sudah diberikan petugas, lalu segera bawa ke laboratorium dalam waktu maksimal satu jam. Jika merasa tidak nyaman dengan metode masturbasi, sampel juga bisa dikumpulkan menggunakan kondom khusus tanpa spermisida yang disediakan oleh laboratorium, karena kondom biasa bisa merusak kualitas sperma. Prosedur ini tidak menimbulkan rasa sakit, tidak berbahaya, dan dilakukan semata-mata untuk mendapatkan sampel yang paling akurat demi menilai kondisi kesuburan Anda.
Segera periksakan kesehatan reproduksi Anda melalui analisa sperma di Laboratorium Kimia Farma sekarang juga – layanan profesional dengan hasil yang akurat untuk masa depan keluarga yang lebih baik. Dengan teknologi terdepan, tenaga ahli berpengalaman, dan layanan yang terpercaya, Kimia Farma siap menjadi mitra terbaik dalam perjalanan perencanaan keluarga Anda. Karena kesehatan reproduksi yang prima adalah hak setiap pria – dan Kimia Farma ada untuk mewujudkannya!

Cek artikel kesehatan lainnya dan jangan lewatkan promo menarik khusus bulan ini!

           
  • Agarwal, A., et al. (2015). A unique view on male infertility around the globe. Reproductive Biology and Endocrinology, 14(1), 37.
  • Dewangga, M. W., Nasihun, T., & Isradji, I. (2020). Dampak olahraga berlebihan terhadap kualitas sperma. Jurnal Penelitian Kesehatan “SUARA FORIKES” (Journal of Health Research “Forikes Voice”), 12(1), 58-61.
  • Idris, R., & Hartamto, H. (2006). Logam Berat, Radiasi, Diet, Rokok, Alkohol, dan Obat-obatan Sebagai Penyebab Infertilitas Pria. Jurnal Keperawatan Indonesia, 10(2), 70-75.
  • Latif, T., Kold Jensen, T., Mehlsen, J., Holmboe, S. A., Brinth, L., Pors, K., Skouby, S. O., Jørgensen, N., & Lindahl-Jacobsen, R. (2017). Semen Quality as a Predictor of Subsequent Morbidity: A Danish Cohort Study of 4,712 Men With Long-Term Follow-up. American Journal of Epidemiology, 186(8), 910–917.
  • Mahfudah, U. (2019). Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Infertilitas Pada Pria. In PROSIDING SEMINAR NASIONAL (pp. 182-186).
  • Sigman, M. (2016). The relationship between serum testosterone and semen parameters in men with infertility. Journal of Urology.
  • World Health Organization. (2021). WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen (6th Edition). Geneva: World Health Organization Press.

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group