Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨🍴Di sini ada Tongseng, Rawon, Empal dan Gulai yang dijamin SEHAT 🍲🥩😋
Langkah Cerdas Deteksi Cacingan Sebelum Terlambat
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
Mengapa Gejala Cacingan Seringkali Tersembunyi?
Infeksi cacing (helminthiasis) kerap disebut sebagai penyakit tersembunyi karena gejala awalnya seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, atau gangguan pencernaan ringan yang sering dianggap keluhan biasa dan akhirnya terabaikan. Secara biologis, beberapa jenis cacing dapat bertahan lama dalam tubuh tanpa gejala yang jelas, misalnya jenis cacing Ascaris lumbricoides. Sering kali, saat gejala mulai terasa, infeksi sebenarnya sudah berada pada tahap yang lebih lanjut. Sering kali, saat gejala mulai terasa, infeksi sebenarnya sudah berada pada tahap yang lebih lanjut.Dampak Cacingan
1. Malnutrisi (kondisi ketidakseimbangan nutrisi dalam tubuh)Cacing di dalam usus bisa “bersaing” dengan kita untuk nutrisi. Mereka dapat merusak lapisan usus sehingga tubuh tidak menyerap makanan dengan baik, menyebabkan kekurangan vitamin, protein, dan juga berat badan kurang. Bahkan setelah pemberian obat cacing, selera makan bisa membaik secara signifikan.
2. Anemia
Cacing tambang bisa “menghisap” darah di dalam tubuh, sehingga lama-kelamaan mengakibatkan anemia atau kurang darah. Hal ini membuat tubuh terasa lemah, cepat lelah, dan sulit belajar atau berkonsentrasi.
3. Penyumbatan usus
Penyumbatan usus dapat terjadi bila jumlah cacing di dalam saluran pencernaan terlalu banyak, misalnya akibat cacing gelang ataupun cacing kremi yang saling menggumpal. Kondisi ini dapat menghambat aliran makanan dan cairan di usus. Gejalanya dapat berupa sakit perut hebat, mual, muntah, perut kembung, hingga tidak bisa buang air besar. Penyumbatan usus akibat cacing merupakan keadaan darurat medis yang berpotensi berbahaya dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit, bahkan terkadang hingga memerlukan tindakan operasi.
4. Perkembangan otak terganggu
Infeksi kronis cacingan dapat berkontribusi mengganggu daya kemampuan otak akibat malnutrisi dan anemia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang terinfeksi sering memiliki gangguan memori, daya ingat, dan kemampuan belajar. Pemberian obat cacing saja bisa memperbaiki fungsi kognitif secara nyata.
5. Gangguan ImunitasInfeksi cacing dapat memengaruhi sistem imun sehingga tubuh menjadi kurang responsif melawan beberapa infeksi seperti tuberkulosis, malaria, atau HIV. Selain itu, juga dapat mengurangi optimalisasi kerja vaksin dalam tubuh.
Mitos dan Fakta Cacingan
| Mitos | Fakta |
| Minum obat cacing sekali seumur hidup sudah cukup. | WHO merekomendasikan obat cacing rutin (setiap 6-12 bulan) di daerah endemik (wabah penyakit) untuk anak sekolah dan kelompok berisiko. Obat cacing hanya membasmi cacing yang ada saat itu, tetapi tidak mencegah infeksi baru sehingga penting untuk diberikan secara berkala. |
| Cacingan tidak berbahaya, hanya membuat tubuh menjadi kurus. | Cacingan tidak sekadar membuat kurus, tetapi juga dapat menyebabkan anemia, malnutrisi, gangguan tumbuh kembang, bahkan menurunkan kemampuan otak. |
| Cacingan hanya bisa dicegah dengan obat. | Pencegahan utama cacingan adalah perbaikan sanitasi, akses air bersih, kebiasaan cuci tangan, dan memakai alas kaki. Obat hanya bagian dari strategi pengendalian. |
| Cacingan hanya dialami anak kecil. | Semua usia bisa terinfeksi, namun anak-anak lebih rentan karena kebiasaan higienitas, sementara orang dewasa terutama pekerja lapangan dan ibu hamil juga tetap berisiko. |
| Cacingan bisa sembuh sendiri tanpa obat. | Sebagian infeksi cacing memang bisa mereda sementara, tetapi cacing dapat bertahan lama dalam tubuh. Tanpa pengobatan, infeksi dapat kambuh dan menjadi kronis. |
- Sebagai pendeteksi dini untuk menemukan infeksi sebelum gejala menjadi berat.
- Membantu menentukan jenis cacing, hal ini penting agar pengobatan lebih tepat sasaran.
- Dapat menilai apakah obat cacing yang diberikan sudah efektif atau perlu diulang.
- Dengan intervensi lebih cepat, risiko malnutrisi, anemia, atau penyumbatan usus bisa ditekan.
- Untuk membantu mengetahui adanya infeksi berulang (reinfeksi) atau infeksi lama yang belum tuntas.
- Sebagai data dasar institusi kesehatan setempat untuk menentukan apakah suatu wilayah tempat tinggal memerlukan program POPM (Pemberian Obat Pencegahan Massal) dan seberapa sering diberikan.
Siapa yang Sebaiknya Melakukan Pemeriksaan?
- Anak-anak usia sekolah di daerah endemik.
- Ibu hamil dan wanita usia subur.
- Pekerja lapangan yang sering kontak dengan tanah.
- Orang dengan gejala kronis seperti lemas, berat badan sulit naik, atau gangguan pencernaan berulang.
Cek artikel kesehatan lainnya dan jangan lewatkan promo menarik khusus bulan ini!
Referensi
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2020). Kapan balita perlu minum obat cacing? Artikel IDAI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman pengendalian cacingan. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
- Kucik, C. J., Martin, G. L., & Sortor, B. V. (2016). Common intestinal parasites. American Family Physician, 69(5), 1161–1168.
- Means, A. R., Burns, P., Sinclair, D., & Walson, J. L. (2016). Antihelminthics in helminth-endemic areas: effects on HIV disease progression. Cochrane Database of Systematic Reviews, (4).
- Phuphisut, O., Phongsavan, K., Thamsborg, S. M., Johansen, M. V., & Aagaard-Hansen, J. (2020). Prevalence of soil-transmitted helminth infections and associated risk factors among elderly individuals living in rural areas of southern Thailand. BMC Public Health, 20(1), 1882.
- PLOS Global Public Health. (2024). Community- and school-based deworming impact: Meta-analysis. PLOS Global Public Health.
- Shrestha, S., et al. (2024). Acute abdomen due to small bowel obstruction by Ascaris lumbricoides. Case Reports.
- Weatherhead, J. E., Hotez, P. J., & Mejia, R. (2017). The global state of helminth control and elimination in children. Pediatric Clinics of North America, 64(4), 867–877.
- Welch, C., et al. (2022). Systematic review: helminth infection & growth outcomes in children. International Journal of Epidemiology.
- World Health Organization. (2023). Soil-transmitted helminth infections – Fact sheet.


