Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨🍴Di sini ada Tongseng, Rawon, Empal dan Gulai yang dijamin SEHAT 🍲🥩😋
Obesitas serta Risiko Kesehatan Jangka Panjang yang Sering Terabaikan
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
Obesitas tidak hanya soal penampilan fisik yang tampak gemuk atau berat badan yang berlebih, melainkan merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan. Dampaknya dapat berupa gangguan metabolik, hingga memengaruhi kondisi fisik seperti nyeri sendi serta aspek psikologis seperti rasa tidak percaya diri atau stres. Berdasarkan World Obesity Atlas (2022), Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi, baik pada perempuan (14%) maupun laki-laki (8%). Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas dewasa (kelompok usia lebih dari 18 tahun) naik dari 21.8% (tahun 2018) menjadi 23.4% (tahun 2023). Apa itu Obesitas? Saat ini obesitas diakui sebagai penyakit kronis yang bersifat kompleks, bukan hanya akibat pilihan gaya hidup yang tidak sehat. Para ahli serta tenaga klinis di seluruh dunia memandang obesitas sebagai kondisi medis yang memerlukan pemahaman menyeluruh tentang penyebab, konsekuensi, serta upaya pencegahan dan penanggulangannya. Obesitas sendiri mencakup berbagai aspek: 1. Gangguan Metabolisme Energi Obesitas merupakan gangguan intrinsik dalam pembagian bahan bakar tubuh (fuel partitioning), yang sering diistilahkan sebagai kondisi “lemak yang terperangkap”. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh mengalami kegagalan dalam mengatur distribusi energi secara normal. 2. Ambang Batas Klinis Penentuan obesitas secara formal menggunakan standar medis seperti ambang batas Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) yang telah ditetapkan secara internasional, termasuk kategori khusus untuk anak-anak dan remaja. 3. Kondisi Multisistem Obesitas didefinisikan melalui hubungannya dengan berbagai komorbiditas atau penyakit penyerta, seperti gangguan pernapasan (Obstructive Sleep Apnea), masalah reproduksi, hingga dampak terhadap kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan. Mengapa Obesitas Menjadi Ancaman Kesehatan? Obesitas yang menjadi faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) di seluruh dunia. Komplikasi dari Obesitas meliputi: Komplikasi Metabolik 1. Diabetes Melitus Tipe 2 Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan obesitas memiliki peningkatan risiko hingga 3.5-4.5 kali untuk menderita DMT2. 2. Dislipidemia Dislipidemia pada obesitas adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar trigliserida, penurunan kadar kolesterol HDL, dan peningkatan kadar kolesterol LDL. Dislipidemia diperkirakan dapat ditemukan pada 60-70% pasien dengan obesitas serta 50-60% pasien dengan kelebihan berat badan. Dislipidemia berperan besar dalam meningkatkan risiko aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular pada pasien dengan obesitas. 3. Defisiensi Vitamin D dan Kesehatan Tulang Prevalensi defisiensi vitamin D pada serum dilaporkan 35% lebih tinggi pada populasi obesitas dan 24% lebih tinggi pada populasi kelebihan berat badan bila dibandingkan dengan pada populasi dengan IMT normal. Defisiensi vitamin D ini menyebabkan penurunan penyerapan kalsium dan fosfor di usus, penurunan mineralisasi tulang, dan mengganggu homeostasis kalsium darah; menjadi patofisiologi penting untuk Bone Mineral Disease (BMD). Risiko terjadinya fraktur patologis juga meningkat, menimbang peningkatan kejadian jatuh mencapai 1-6 kali lipat pada populasi obesitas, terutama pada usia lanjut. 4. Polycystic Ovary Syndrome Pada penderita PCOS, prevalensi obesitas mencapai 33-47% berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat. Juga sebaliknya, prevalensi PCOS meningkat hingga 5 kali lipat pada Wanita dengan obesitas. Komplikasi Kardiovaskular 1. Gagal Jantung Gagal jantung pada obesitas disebabkan oleh perubahan neurohormonal, adipokin, peningkatan stres oksidatif, inflamasi, serta infiltrasi lemak epikardial yang menyebabkan perubahan pada struktur jantung. Kejadian gagal jantung terjadi lebih cepat 10 tahun pada populasi dengan obesitas dibandingkan dengan populasi dengan IMT normal, dengan 10% kasus gagal jantung disebabkan langsung oleh obesitas. 2. Gangguan Irama Jantung Diperkirakan obesitas berkontribusi dalam 1 dari 5 kasus fibrilasi atrium yang terjadi, dengan setiap peningkatan 5 kg/ m2 IMT meningkatkan 29% risiko terjadinya fibrilasi atrium. 3. Penyakit Jantung Koroner PJK merupakan salah satu komplikasi terkait obesitas dengan angka mortalitas tertinggi. Risiko terjadinya PJK meningkat sekitar 5-7% pada setiap peningkatan 1 kg/ m2 IMT dari batas normal. 4. Penyakit Serebrovaskular (Strok) Obesitas juga meningkatkan risiko terjadinya penyakit serebrovaskular, dengan peningkatan risiko strok iskemik sebesar 22% pada kategori kelebihan berat badan serta 64% pada kategori obesitas. Setiap peningkatan 5 kg/ m2 IMT di atas batas normal berkorelasi dengan peningkatan 29-41% mortalitas akibat strok iskemik. Komplikasi Ginjal 1. Hipertensi Diperkirakan obesitas menjadi penyebab dari 65-78% kasus hipertensi primer secara global. Setiap peningkatan 5% berat badan juga diikuti peningkatan insidensi hipertensi setinggi 20-30%. 2. Penyakit Ginjal Kronik Obesitas berkontribusi pada patogenesis pada sekitar 30% pasien PGK, dengan setiap peningkatan 5 kg/ m2 IMT diasosiasikan dengan peningkatan 50% risiko PGK. Komplikasi Respiratorik 1. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) Prevalensi OSAS mencapai 40% pada populasi kelebihan berat badan dan mencapai 70-90% pada populasi obesitas kelas 2 atau lebih. 2. Obesity Hypoventilation Syndrome (OHS) Penumpukan lemak pada dinding dada dan abdomen yang meningkatkan resistensi elastis paru serta mengurangi kepatuhan dinding dada dan kapasitas fungsional paru. OSAS juga menjadi salah satu penyebab OHS pada pasien obesitas. 3. Asma Kondisi obesitas meningkatkan risiko eksaserbasi, memperberat manifestasi serta mempersulit kontrol penyakit asma. Komplikasi Gastrointestinal 1. Metabolic Dysfunction-Associated Fatty Liver Disease MAFLD didefinisikan sebagai akumulasi lemak pada lebih dari 5% sel hepatosit, tanpa adanya faktor penyebab lain seperti konsumsi alkohol, medikasi, maupun hepatitis. Secara global, sekitar 51% dari populasi yang termasuk kategori kelebihan berat badan atau obesitas juga memiliki kondisi MAFLD 2. Gastroesophageal Reflux Disease Obesitas juga meningkatkan risiko terjadinya GERD, dengan prevalensi GERD mencapai 60% pada populasi dengan obesitas 3. Kolelitiasis Obesitas menjadi salah satu faktor risiko pada kasus penyakit batu empedu atau kolelitiasis. Komplikasi Lain 1. Infeksi Obesitas telah diakui secara global sebagai faktor risiko signifikan terhadap berbagai infeksi. Individu dengan obesitas memiliki inflamasi kronis tingkat rendah dan respons imun yang terganggu, menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. 2. Penyakit Keganasan Obesitas dikaitkan dengan berbagai jenis keganasan dan melibatkan berbagai mekanisme seperti inflamasi kronik, gangguan regulasi hormon, disregulasi sistem imun, dan stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan DNA. 3. Osteoartritis Peningkatan beban mekanik serta kondisi inflamasi kronik pada sendi lutut pada populasi obesitas meningkatkan risiko terjadinya osteoarthritis. Terdapat peningkatan risiko osteoartritis hingga 60% atau 4-5 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi dengan IMT ideal. Setiap peningkatan 5 kg berat badan dari batas atas normal akan meningkatkan risiko osteoartritis hingga 36%. 4. Gangguan Kejiwaan (Depresi, Ansietas, Binge Eating Disorder) Individu dengan obesitas memiliki peningkatan risiko hingga 55% untuk menderita gangguan depresi. juga sebaliknya, individu dengan depresi memiliki peningkatan risiko hingga 58% untuk menderita obesitas Faktor Penyebab Obesitas yang Perlu Diwaspadai Beragam kebiasaan harian dapat secara langsung mempengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh. Apabila tidak diatur dengan tepat, gaya hidup tersebut dapat menjadi penyebab utama penumpukan lemak. Beberapa faktor penyebab yang harus diwaspadai meliputi: 1. Perilaku Kesehatan dan Gaya Hidup Kebiasaan sehari-hari memainkan peran besar dalam penumpukan lemak tubuh. Faktor-faktor ini meliputi kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta rendahnya konsumsi serat, buah, dan sayuran. Selain itu, kurang tidur, kualitas tidur yang buruk, serta terlalu banyak waktu di depan layar (screen time) seperti TV dan gadget juga berkontribusi pada kenaikan berat badan. 2. Stres Kronis Stres jangka panjang dapat memengaruhi otak dan memicu tubuh untuk memproduksi hormon kortisol dalam kadar tinggi. Hormon ini berfungsi mengatur keseimbangan energi dan dorongan rasa lapar, dengan kadarnya yang tinggi dapat meningkatkan nafsu makan serta memicu peradangan dalam tubuh. 3. Kondisi Medis dan Obat-obatan Beberapa kondisi kesehatan dapat menyebabkan penumpukan berat badan berlebih atau resistensi insulin, seperti sindrom Cushing, sindrom polikistik ovarium (PCOS), atau tiroid. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu dapat mengganggu sinyal lapar di otak, termasuk obat psikofarmaka (antipsikotik/ antidepresan), steroid, alat kontrasepsi hormonal tertentu, serta obat untuk kejang, tekanan darah, dan diabetes. 4. Faktor Genetik Gen dapat memengaruhi perasaan lapar, rasa kenyang, dan metabolisme seseorang secara keseluruhan. Dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan gen tunggal seperti sindrom Bardet-Biedl dan sindrom Prader-Willi dapat langsung menyebabkan obesitas. 5. Sistem dan Lingkungan Lingkungan tempat seseorang tinggal, bekerja, dan bermain sangat memengaruhi kemampuan untuk memilih gaya hidup sehat. Faktor-faktor ini meliputi akses terhadap makanan sehat yang terjangkau, ketersediaan tempat yang aman untuk beraktivitas fisik, stabilitas ekonomi, hingga paparan bahan kimia tertentu di lingkungan yang dapat mengganggu cara kerja tubuh.
Melihat kompleksitas dampak obesitas, penanganan kondisi ini tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Melalui pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, obesitas beserta risiko penyakit penyertanya dapat dikenali sejak dini sebelum berkembang menjadi komplikasi serius yang berdampak jangka panjang. Kimia Farma Laboratorium & Klinik menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan untuk membantu melakukan deteksi dini dan pemantauan obesitas secara profesional, nyaman, dan terpercaya, sebagai langkah strategis dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara berkelanjutan.
| Mitos | Fakta |
| Obesitas hanya disebabkan oleh terlalu banyak makan | Meskipun asupan kalori berlebih berperan pada obesitas, tetapi bukan semata akibat pola makan. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor metabolik, hormonal, genetik, psikologis, penggunaan obat tertentu, serta lingkungan. |
| Diet ekstrem adalah cara tercepat dan paling efektif menurunkan berat badan | Diet ekstrem berisiko menimbulkan gangguan metabolisme, kehilangan massa otot, serta efek yo-yo yang menyebabkan berat badan naik kembali. Penurunan berat badan yang baik harus bersifat bertahap, terukur, dan disesuaikan dengan kondisi medis individu. |
| Selama berat badan tidak terlalu berlebih, obesitas tidak berbahaya | Kelebihan berat badan ringan sudah dapat meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Selain itu, distribusi lemak terutama lemak visceral di perut lebih berbahaya dibandingkan angka berat badan semata. |
Referensi
- CDC.UK. (2025, November 14). Risk Factors for Obesity | Obesity. CDC. Retrieved February 3, 2026, from https://www.cdc.gov/obesity/risk-factors/risk-factors.html
- Chamarthi, V. S., & Daley, S. F. (2025, August 29). Comprehensive Assessment and Diagnosis of Metabolic and Biomechanical Complications in Obesity. National Libarary of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459357/
- Sunyer, X. P. (n.d.). The Medical Risks of Obesity. National Institutes of Health, 121(6), 21-33. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2879283/pdf/nihms-197029.pdf
- KMK No. HK.01.07-MENKES-509-2025.pdf Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa
- Konsensus Tata Laksana Multidisiplin Obesitas Pada Dewasa (2025). Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia
- World Obesity. (2024). Our four scientific, peer-reviewed journals performed well in 2024, with each journal experiencing impressive growth. World Obesity. https://www.worldobesity.org/news/2024-in-review-journals


