Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Sering Lelah Padahal Sudah Cukup Tidur? Bisa Jadi Ini Penyebabnya!

Di tengah aktivitas sehari-hari, rasa lelah sering dianggap sebagai akibat dari kurangnya istirahat atau stres. Padahal salah satu penyebab yang sering terlupakan adalah defisiensi Vitamin B. Vitamin ini memiliki peran penting dalam membantu tubuh menghasilkan energi. Ketika tubuh kekurangan Vitamin B, metabolisme energi tidak berjalan maksimal sehingga produksi energi menurun dan tubuh lebih mudah merasa lelah. Selain kelelahan, defisiensi Vitamin B juga dapat memengaruhi fungsi saraf, pembentukan sel darah, dan keseimbangan metabolisme secara umum.
Peran Vitamin B dalam Metabolisme Energi
Vitamin B terdiri dari delapan jenis vitamin yang larut dalam air, yaitu B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), B7 (biotin), B9 (folat), dan B12 (kobalamin). Semuanya ikut terlibat dalam proses metabolisme yang memiliki fungsi penting dalam tubuh. Berikut fungsi utama Vitamin B yang berkaitan dengan energi:
  1. Metabolisme Katabolik: Vitamin B membantu tubuh memecah karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi.
  2. Metabolisme Anabolik: Membantu pembentukan molekul penting dalam tubuh. Perlu dipahami bahwa Vitamin B tidak secara langsung menghasilkan energi, tetapi berperan penting sebagai komponen pembantu agar proses pembentukan energi dapat berlangsung secara efisiensi.
Fungsi Jenis Vitamin B
Setiap jenis Vitamin B tentunya memiliki fungsi yang berbeda-beda, berikut penjelasan mengenai karakteristik dari jenis Vitamin B:
1. Vitamin B1 (Tiamin)
Setelah diserap tubuh, Vitamin B1 diubah menjadi bentuk aktif bernama TPP (Tiamin Pirofosfat) dengan bantuan magnesium. TPP membantu mengolah glukosa menjadi energi. Kekurangan tiamin dapat menyebabkan aktivitas mitokondria terganggu sehingga tubuh jadi lemah karena penurunan produksi energi.
2. Vitamin B2 (Riboflavin)
Vitamin B2 membantu mengubah makanan seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi glukosa yang bisa dipakai sel sebagai sumber energi. Di dalam tubuh, riboflavin bekerja melalui molekul seperti FAD (Flavin Adenin Dinukleotida) dan FMN (Flavin Monokuleotida) yang membantu proses kimia. Selain itu, vitamin ini memiliki fungsi antioksidan yang membantu menjaga sel tetap sehat dan membantu daya tahan tubuh.
3. Vitamin B3 (Niasin)
Vitamin B3 berperan penting dalam proses perbaikan DNA dan pembentukan kolesterol. Nutrisi ini dapat diperoleh dari biji-bijian, kacang-kacangan, kacang kedelai, dan produk sereal atau roti. Kekurangan niasin dapat memicu penyakit pellagra dengan ditandai dermatitis, diare, dan demensia. Namun, konsumsi berlebihan juga tidak disarankan karena dapat menimbulkan efek toksisitas.
4. Vitamin B5 (Asam Pantotenat)
Vitamin B5 membantu tubuh membentuk koenzim A. Zat ini sangat dibutuhkan untuk memulai proses pengubahan lemak dan nutrisi menjadi energi melalui siklus metabolisme di dalam sel.
5. Vitamin B6 (Piridoksin)
Vitamin B6 diubah tubuh menjadi bentuk aktif yang disebut piridoksal 5’fosfat. Fungsinya membantu enzim memecah karbohidrat, protein, dan lemak agar bisa digunakan tubuh.
6. Vitamin B7 (Biotin)
Vitamin B7 membantu memproses asam lemak, glukosa, dan asam amino. Hasilnya bisa digunakan sebagai sumber energi atau bahan pembentuk sel.
7. Vitamin B9 (Folat)
Vitamin B9 atau folic acid berperan penting untuk pembentukan DNA dan produksi sel darah merah. Kandungan folat banyak ditemukan pada sayuran hijau, biji-bijian, kacang-kacangan, produk susu, unggas, dan daging. Kekurangan folat sering disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan, pola makan buruk, dan gangguan penyerapan. Ketika kekurangan folat akan menyebabkan anemia megablastik, kelelahan, gangguan konsentrasi, dan perubahan perilaku.
8. Vitamin B12 (Kobalamin)
Vitamin B12 membantu tubuh membentuk DNA dan RNA, serta berperan dalam proses pembentukan dan pengolahan hormon, protein, dan lemak. Vitamin B12 hanya ditemukan secara alami pada produk hewani, sehingga individu dengan pola makan vegan atau vegetarian ketat memiliki risiko lebih tinggi mengalami defisiensi.
Kaitan Defisiensi Vitamin B dengan Mood & Sistem Saraf
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran Vitamin B tidak hanya sebatas metabolisme energi, tetapi juga berkaitan erat dengan fungsi regulasi mood dan sistem saraf.
1. Kaitan Vitamin B dengan Depresi dan Mood
Kekurangan Vitamin B-12 terbukti berhubungan dengan munculnya gangguan mood, termasuk depresi. Meskipun depresi merupakan kondisi kompleks dan penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, beberapa penelitian menemukan adanya keterkaitan antara kadar Vitamin B-12 dan kesehatan mental. Beberapa penemuan yang mendukung hubungan tersebut diantaranya:
  • Kadar B-12 yang rendah sering ditemukan pada orang yang depresi. Semakin rendah kadar Vitamin B-12, semakin tinggi munculnya gejala depresi.
  • Terapi depresi cenderung lebih efektif jika kadar Vitamin B-12 dalam tubuh mencukupi. Beberapa studi menemukan bahwa orang dengan kadar B-12 yang baik cenderung merespons terapi depresi dengan lebih baik.
2. Pengaruh pada Fungsi Otak dan Kimia Saraf
Vitamin B-12 juga berperan langsung dalam menjaga kesehatan otak dan sistem saraf diantaranya:
  • Mendukung fungsi otak secara umum. Vitamin B-12 dikenal sebagai “vitamin energi” karena membantu menjaga fungsi saraf dan kognitif tetap maksimal.
  • Berperan dalam pembentukan serotonin. Serotonin adalah zat kimia otak yang membantu mengatur suasana hati. Kekurangan B-12 dapat mengganggu produksi serotonin, sehingga berpotensi memicu perubahan mood atau gejala depresi. Meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa peran serotonin dalam depresi mungkin tidak sebesar yang dulu diperkirakan. Perlu dipahami bahwa gangguan mood tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu vitamin, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Gejala Kekurangan Vitamin
Kekurangan Vitamin B-12 dapat menimbulkan gejala yang sama dengan depresi. Kondisi ini sering tidak terdeteksi, terutama jika seseorang memang sedang mengalami depresi. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:
Gejala Defisiensi B-12 Depresi
Kelelahan atau Keletihan Merasa kelelahan dan keletihan.
Kabut Otak (Brain Fog) Merasa kabut otak atau sulit berkonsentrasi.
Gangguan Psikologis Merasa depresi, merasa mudah tersinggung, bahkan dapat menyebabkan paranoia dan delusi. Perasaan bersalah atau marah.
Pola Makan Tidak merasa lapar seperti biasanya, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Nafsu makan meningkat atau menurun.
Gangguan Fisik Detak jantung cepat tanpa berolahraga, memiliki kulit kekuningan, mulut atau lidah sakit, dan mengalami mual, muntah, atau diare. Nyeri tubuh yang tidak dapat dijelaskan.
Gangguan Neurologis Mati rasa atau kesemutan di tangan dan kaki. Merasa sulit berjalan atau berbicara seperti biasanya. Serta adanya masalah penglihatan.
Forgetfulness Kesulitan mengingat sesuatu.
Kebingungan atau gangguan berpikir Merasa kebingungan atau gangguan berpikir.
Pusing Merasa pusing atau dizziness
Pemeriksaan kadar Vitamin B12 dalam darah diperlukan untuk memastikan diagnosis defisiensi.
Siapa yang Rentan Mengalami Kekurangan Vitamin B
Beberapa kelompok yang lebih berisiko mengalami defisiensi Vitamin B-12:
1. Faktor Usia
Pada usia 60 tahun ke atas, tubuh mulai kesulitan menyerap Vitamin B-12, sehingga risiko kekurangan meningkat. Seiring bertambahnya usia maka risikonya lebih tinggi, usia 75 tahun keatas memiliki risiko lebih tinggi karena kemampuan sistem pencernaan menurun.
2. Faktor Diet
Mereka yang menjalani diet vegan atau vegetarian ketat tanpa konsumsi produk hewani sangat rentan berisiko tinggi kekurangan B-12.
3. Masalah Kesehatan yang Mengganggu Penyerapan
 Beberapa kondisi membuat tubuh sulit menyerap Vitamin B-12 dari makanan adalah:
  • Gastritis: peradangan pada lambung mengurangi produksi asam lambung, yang dibutuhkan untuk melepaskan B-12 agar bisa diserap.
  • Anemia pernisiosa: tubuh tidak menghasilkan faktor intrinsic, yaitu protein penting agar B-12 bisa masuk ke dalam aliran darah.
  • Penyakit pencernaan: contohnya crohn atau celiac, yang merusak saluran cerna dan menghambat penyerapan vitamin.
  • Transcobalamin II deficiency: kelainan genetik langka yang menghambat pengangkutan B-12 di dalam tubuh.
  • Sindrom sjogren: Penderita sindrom ini punya risiko lebih dari enam kali lipat mengalami defisiensi B-12.
 
4. Kondisi Media dan Gangguan Penyerapan
Beberapa faktor eksternal juga dapat menyebabkan kekurangan:
  • Operasi Saluran Cerna
Misalnya operasi gastric bypass (penurunan berat badan). Prosedur ini bisa mengurangi kemampuan lambung menyerap B-12.
  • Konsumsi Alkohol Berlebihan
Alkohol dapat merusak saluran pencernaan dan mengganggu penyerapan vitamin.
  • Penggunaan Obat Tertentu
Obatnya diantaranya Metformin (obat diabetes), PPI (obat maag), H2 blockers (obat penurunan asam lambung), dan pil KB.
Mitos Fakta
Kalau sering lelah berarti kurang tidur, bukan kurang vitamin. Rasa lelah bukan hanya karena kurang tidur atau stres. Kekurangan Vitamin B juga bisa membuat tubuh sulit menghasilkan energi sehingga mudah lemas.
Usia muda tidak mungkin kekurangan Vitamin B. Walaupun lansia lebih berisiko, anak muda juga bisa kekurangan Vitamin B-12, terutama jika pola makan tidak seimbang, memiliki masalah pencernaan, atau mengonsumsi obat tertentu.
Jika tidak ada gejala berat, berarti tidak kekurangan Vitamin B. Defisiensi Vitamin B bisa bersifat tersembunyi. Gejalanya sering mirip kelelahan biasa, depresi ringan, atau gangguan pencernaan sehingga kerap tidak disadari.
Kekurangan Vitamin B bukan kondisi yang bisa dianggap remeh. Jika mengalami gejala seperti kelelahan berkepanjangan, mood tidak stabil, atau gangguan konsentrasi, sebaiknya segera periksakan. Untuk mengatasi defisiensi Vitamin B-12 yang parah, terapi injeksi menjadi pilihan paling efektif karena vitamin langsung masuk ke aliran darah tanpa melalui proses pencernaan. Penanganan sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi tenaga medis untuk mencegah komplikasi jangka panjang, terutama gangguan saraf yang dapat bersifat permanen. Segera kunjungi Klinik Kimia Farma terdekat untuk mendapatkan injeksi Vitamin B dan injeksi Vitamin lainnya didampingi tenaga medis profesional yang siap membantu menjaga kesehatan Anda dan keluarga.
  • Cleveland Clinic. (2024, January 08). Vitamin B12 Deficiency: Symptoms, Causes & Treatment. Cleveland Clinic. Retrieved October 1, 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22831-vitamin-b12-deficiency
  • Hanna, M., Jaqua, E., Nguyen, V., & Clay, J. (2022, June 17). B Vitamins: Functions and Uses in Medicine. The Permanente Journal. doi: 10.7812/TPP/21.204
  • Legg, T. J. (2017, January 26). Vitamin B-12 Deficiency and Depression: What’s the Link? Healthline. Retrieved October 1, 2025, from https://www.healthline.com/health/depression/b12-and-depression#connection 

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group