Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Ternyata, Diet Bukan Sekadar Mengurangi Makan. Ini yang Perlu kamu Pahami

Menurunkan berat badan sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: “Diet apa yang paling efektif?”
Saat ini, berbagai metode diet semakin mudah ditemukan, mulai dari diet rendah karbohidrat, intermittent fasting, diet vegan, diet ketogenik, hingga berbagai pola makan yang populer di media sosial. Tidak sedikit pula orang yang mencoba mengikuti pola diet teman, keluarga, bahkan figur publik karena melihat hasil yang tampak menjanjikan.
Namun, apakah satu jenis diet benar-benar cocok untuk semua orang?
Jawabannya belum tentu.
Penurunan berat badan yang sehat bukan sekadar tentang mengurangi porsi makan atau mengejar angka tertentu di timbangan. Pola makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan zat gizi, kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, preferensi makanan, serta kemampuan seseorang untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, diet yang baik bukan hanya diet yang dapat membantu berat badan turun, tetapi juga diet yang dapat dijalani secara aman dan berkelanjutan. Di sinilah penerapan diet dengan pendampingan ahli menjadi sangat penting. Weight Care tidak semata-mata berorientasi pada penurunan angka di timbangan, tetapi pada pengelolaan berat badan yang sehat, realistis, terukur, dan berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar “turun berat badan”, melainkan membangun kebiasaan yang dapat terus dilakukan setelah target awal tercapai.
Diet Sehat Tidak Harus Berarti Diet yang Ekstrem
Pada dasarnya, pola makan sehat dapat memiliki banyak bentuk. WHO menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya memenuhi prinsip cukup, seimbang, beragam, dan moderat. Artinya, tubuh tetap mendapatkan energi, protein, vitamin, mineral, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah yang sesuai, sekaligus membatasi komponen yang jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit.
Karena kebutuhan setiap orang berbeda, tidak ada satu pola diet yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang.
Seseorang mungkin merasa cocok dengan pola makan tertentu, sementara orang lain justru kesulitan mempertahankannya. Begitu pula dengan kebutuhan seseorang yang memiliki diabetes, hipertensi, gangguan metabolik, alergi makanan, atau kondisi medis lainnya. Pola makan untuk masing-masing kondisi tentu perlu dipertimbangkan secara berbeda.
Jadi, tujuan diet bukan membuat seseorang “makan sesedikit mungkin”, melainkan menciptakan pola makan yang membantu mencapai defisit energi secara sehat tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi tubuh.
Lalu, Seperti Apa Pola Makan yang Baik untuk Menurunkan Berat Badan?
World Health Organization (WHO) menekankan bahwa pola makan sehat perlu membatasi asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total energi harian (idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan), serta membatasi konsumsi garam hingga kurang dari 5 gram per hari untuk mencegah hipertensi dan menurunkan risiko penyakit jantung serta stroke.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memperkenalkan panduan “Isi Piringku” sebagai acuan porsi makan harian, yaitu separuh piring diisi sayur dan buah, separuh lainnya diisi karbohidrat dan lauk-pauk sumber protein. Panduan ini juga menekankan pentingnya membatasi konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) sebagai bagian dari upaya menekan angka obesitas dan penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan sehari-hari:
1. Mengganti karbohidrat sederhana (nasi putih) dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau ubi, yang punya indeks glikemik lebih rendah dan bikin kenyang lebih lama.
2. Perbanyak protein berkualitas seperti dada ayam tanpa kulit, ikan, atau tempe, untuk menjaga massa otot selama proses penurunan lemak tubuh.
3. Pilih metode masak dikukus atau dipanggang dibanding digoreng dengan banyak minyak; gunakan minyak zaitun atau kanola secukupnya sebagai sumber lemak tak jenuh.
Kenapa Peran Dokter Gizi Itu Penting, Bukan Sekadar Ikut Diet viral
Kesehatan tubuh sangat dipengaruhi oleh pola makan yang dijalani setiap hari. Sayangnya, banyak orang masih mengabaikan pentingnya gizi seimbang dan memilih makanan berdasarkan kebiasaan atau selera saja, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan jangka panjang.
Di sinilah peran dokter gizi klinik menjadi penting. Konsultasi dengan dokter gizi membantu menyusun pola makan yang dipersonalisasi berdasarkan beberapa hal:
1. Pemantauan yang teratur & evaluasi kemajuan:
  • Terdapat evaluasi berkala untuk BB, Lemak tubuh, massa otot, lingkar pinggang
  • Diet disesuaikan terus sesuai hasil dan respons tubuh.
2. Edukasi mengenai metode diet dan asupan gizi dengan benar
  • Menghindari pola penerapan metode diet yang menyesatkan
  • Memberikan pemahaman mengenai komposisi makanan, cara membaca label gizi, dan mengatur cara diet yang sesuai dengan kondisi tubuh.
3. Aman dilakukan dalam jangka panjang
  • menghindari penerapan diet ekstrem yang dapat mengakibatkan tubuh kekurangan zat
  • Membantu membangun kebiasaan makan makanan sehat dan real food
Tujuannya bukan sekadar “berat badan turun”, tapi turun secara sehat dan berkelanjutan. Beberapa keuntungan konsultasi rutin dengan dokter gizi antara lain pemantauan berkala terhadap berat badan, lemak tubuh, massa otot, dan lingkar pinggang; edukasi mengenai metode diet dan cara membaca label gizi yang benar; serta menghindarkan tubuh dari penerapan diet ekstrem yang berisiko menimbulkan kekurangan zat gizi.
Weight Loss vs Weight Maintenance: Dua Tantangan yang Berbeda
Mempertahankan berat badan yang sudah berhasil turun ternyata adalah tantangan utama dalam penanganan obesitas, bahkan lebih menantang dibanding proses menurunkannya. Faktor biologis, perilaku, dan lingkungan cenderung “bersekongkol” untuk menghambat penurunan berat badan sekaligus mendorong berat badan naik kembali.
Besarnya penurunan berat badan jangka panjang yang realistis juga umumnya jauh lebih rendah dibanding harapan pasien maupun tenaga kesehatan. Kabar baiknya, penurunan berat badan dalam jumlah kecil sekalipun, asalkan konsisten dan bertahan lama, tetap terbukti memberi perbaikan kesehatan klinis dan menurunkan berbagai faktor risiko penyakit.
Weight Care
Adalah salah satu program terintegrasi untuk membantu seseorang mencapai berat badan yang ideal dengan sehat, aman & terarah:
1. Konsultasi Dokter : Evaluasi menyeluruh & program personal
2. Pemeriksaan penunjang : Analisis kondisi kesehatan personal
3. Pemantauan berkala: Pantau perkembangan & hasil program penanganan
4. Edukasi Gaya Hidup Sehat : Nutrisi, Olahraga & manajemen stres
5. Pendekatan Medis Tepat: Terapi sesuai dengan indikasi & rekomendasi dokter
Enam Strategi untuk penurunan berat badan yang aman dan konsisten
1. Melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi, sekitar 1 jam per hari
2. Mengonsumsi makanan rendah kalori dan rendah lemak
3. Sarapan secara teratur
4. Memantau berat badan sendiri secara rutin
5. Mempertahankan pola makan yang konsisten
6. Segera mengatasi “kemunduran” kecil sebelum berkembang menjadi kenaikan berat badan yang lebih besar
Perlu dipahami bahwa, begitu seseorang berhasil menurunkan berat badannya selama 2-5 tahun, dan peluang keberhasilan pola diet untuk jangka panjang meningkat pesat. Kepatuhan berkelanjutan terhadap pola makan dan olahraga, kondisi psikologis yang stabil, hingga adanya pemicu medis untuk menurunkan berat badan juga berkaitan erat dengan keberhasilan pola diet yang dilakukan, bukan semata-mata hanya mengurangi asupan makanan.
Mitos Fakta
Mitos Fakta
Mengikuti pola diet orang lain yang sudah terbukti berhasil, pasti akan berhasil juga untuk diri sendiri. Kebutuhan kalori, kondisi medis, gaya hidup, dan respons tubuh setiap orang berbeda, sehingga rencana diet idealnya dipersonalisasi, bukan disamaratakan.
Makanan yang mengandung lemak harus dihindari saat diet Tidak. Lemak merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan jumlahnya, dengan membatasi lemak jenuh dan trans serta memilih sumber lemak tak jenuh secara proporsional.
Kelebihan berat badan (obesitas) merupakan penyakit turunan Faktor genetik memang berpengaruh terhadap berat badan, namun hanya sekitar 20–30% saja. Sisa 70%–80% akan dipengaruhi oleh gaya hidup yang dijalani sehari-hari individu.
Weight Care: Menemani dari Fase Turun sampai Fase Bertahan
Melihat betapa kompleksnya proses diet, jelas bahwa penurunan berat badan yang aman dan sehat tidak bisa hanya mengandalkan “mengurangi pola makan”. Tapi juga dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan kondisi medis, pola makan yang dipersonalisasi, aktivitas fisik, hingga pendampingan berkelanjutan, bahkan setelah target angka di timbangan tercapai.
Inilah yang menjadi dasar hadirnya layanan Weight Care di Kimia Farma, program pendampingan penurunan berat badan dengan pendekatan klinis yang tidak berhenti di fase “penurunan berat badam” saja. Namun,  Program ini juga didampingi oleh tenaga medis profesional yang akan menemani perjalananmu menuju bentuk tubuh yang ideal dengan sehat dan berkelanjutan, mulai dari evaluasi kondisi tubuh, penyusunan pola diet sesuai kondisi tubuh, hingga pemantauan berkelanjutan untuk membantu menjaga hasil yang sudah dicapai agar berat badan  tidak kembali naik.
Karena pada akhirnya, keberhasilan program penurunan berat badan bukan diukur dari seberapa cepat angka di timbangan turun, tapi dari seberapa lama hasil itu bisa dipertahankan.
Catenacci, V. A., Ogden, L. G., Stuht, S., Phelan, S., Wing, R. R., Hill, J. O., & Wyatt, H. R. (2008). Physical activity patterns in the National Weight Control Registry. Obesity, 16(1), 153–161. https://doi.org/10.1038/oby.2007.6 Elfhag, K., & Rössner, S. (2005). Who succeeds in maintaining weight loss? A conceptual review of factors associated with weight loss maintenance and weight regain. Obesity Reviews, 6(1), 67–85. https://doi.org/10.1111/j.1467-789X.2005.00170.x Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, December 13). Isi Piringku: Pedoman makan kekinian orang Indonesia. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Montesi, L., El Ghoch, M., Brodosi, L., Calugi, S., Marchesini, G., & Dalle Grave, R. (2016). Long-term weight loss maintenance for obesity: A multidisciplinary approach. Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity: Targets and Therapy, 9, 37–46. https://doi.org/10.2147/DMSO.S89836 Thomas, J. G., Bond, D. S., Phelan, S., Hill, J. O., & Wing, R. R. (2014). Weight-loss maintenance for 10 years in the National Weight Control Registry. American Journal of Preventive Medicine, 46(1), 17–23. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2013.08.019 van Baak, M. A., & Mariman, E. C. M. (2023). Obesity-induced and weight-loss-induced physiological factors affecting weight regain. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 655–670. https://doi.org/10.1038/s41574-023-00887-4 World Health Organization. (2026, January 26). Healthy diet. World Health Organization. (2026, May 11). Sodium reduction. Kimia Farma Apotek. (2026, June 4). Pengen langsing & tetap sehat? Buktikan perubahannya! Atasi bersama Weight Care by Kimia Farma Apotek.        

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group