Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨Kicau ManiA🐦⬛ untuk hidup lebih SAKSES 🤩 karena kita generasi FOMO 🤙🏻
Dari Obesitas Berujung Pada Fatty Liver
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
Fenomena epidemi obesitas global yang kini menyerang miliaran orang dewasa di seluruh dunia telah memicu krisis kesehatan serius. Salah satu dampak paling signifikan adalah lonjakan prevalensi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD), dimana terjadi penumpukan lemak berlebih di dalam sel hati yang tidak disebabkan oleh konsumsi alkohol. NAFLD memiliki keterkaitan erat dengan obesitas dan gangguan metabolik, karena kelebihan lemak tubuh mendorong terjadinya resistensi insulin dan akumulasi lemak di organ hati. Diperkirakan mencapai 25–30% dari populasi umum meningkat tajam hingga 90% pada penderita obesitas morbid. Kondisi ini menjadikan NAFLD sebagai masalah kesehatan masyarakat yang kian mendesak dan sering kali terabaikan. Mengenal NAFLD sebagai Penyakit Hati Era Modern Peningkatan obesitas global berjalan seiring dengan meningkatnya angka penyakit hati kronis, khususnya NAFLD. Penyakit ini, yang kini juga dikenal dengan istilah metabolic dysfunction-associated liver disease (MASLD), merupakan spektrum gangguan hati yang ditandai oleh penumpukan lemak (steatosis) pada lebih dari 5% sel hati (hepatosit) pada individu yang mengonsumsi sedikit atau sama sekali tidak mengonsumsi alkohol. NAFLD telah berkembang menjadi salah satu penyebab utama penyakit hati jangka panjang di dunia. Kondisi ini sering dipandang sebagai konsekuensi gaya hidup modern yang ditandai oleh pola makan tinggi kalori, konsumsi gula dan lemak berlebih, serta rendahnya aktivitas fisik. Secara epidemiologis, prevalensi NAFLD global diperkirakan mencapai sekitar 32%, dengan angka tertinggi dilaporkan di kawasan Asia Tenggara, yaitu sekitar 42%. NAFLD sangat berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik, seperti obesitas sentral, diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Meskipun prevalensinya lebih tinggi pada individu obesitas, NAFLD juga dapat terjadi pada individu dengan berat badan normal, suatu kondisi yang dikenal sebagai lean NAFLD. Mengapa Banyak Penderita Tidak Menyadari? Salah satu tantangan utama dalam penanganan NAFLD adalah sifatnya yang asimtomatik (tidak menunjukkan gejala) pada tahap awal. Sebagian besar penderita tidak mengalami keluhan spesifik sehingga kondisi ini sering baru terdeteksi secara tidak sengaja saat mengalami pemeriksaan rutin. Dalam banyak kasus, peningkatan kadar enzim hati ditemukan tanpa disertai gejala klinis yang jelas. Kerusakan hati dan proses fibrosis tetap dapat berlangsung meskipun kadar enzim hati berada dalam rentang normal. Kondisi inilah yang menyebabkan NAFLD kerap luput dari perhatian, baik oleh pasien maupun tenaga kesehatan, dan jarang menjadi fokus utama pada dampak obesitas. Risiko Berkembang Menjadi Sirosis Jika tidak ditangani secara tepat, NAFLD dapat berkembang melalui beberapa tahap yang semakin berbahaya. Tahap awal berupa perlemakan hati sederhana (NAFL) dapat berlanjut menjadi Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH), yaitu kondisi yang ditandai oleh peradangan dan kerusakan sel hati. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, sekitar 50% penderita NASH berisiko mengalami fibrosis lanjut hingga sirosis hati. Bahkan, berbagai proyeksi menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, NAFLD diperkirakan akan menjadi penyebab utama sirosis yang memerlukan transplantasi hati secara global. Selain risiko sirosis, penderita NAFLD juga memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular dan kanker hati (hepatocellular carcinoma), yang berkontribusi signifikan terhadap angka mortalitas. Peran SGOT, SGPT, USG, dan MCU dalam Deteksi Dini Medical Check-up (MCU) secara berkala menjadi langkah strategis dalam deteksi dini NAFLD. Beberapa pemeriksaan penting yang umum digunakan meliputi: 1. Pemeriksaan SGOT (AST) dan SGPT (ALT) Peningkatan kadar enzim hati ini sering menjadi indikator awal adanya kerusakan sel hati. Rasio AST/ALT yang lebih dari satu dapat mengindikasikan kemungkinan fibrosis hati, meskipun tidak bersifat diagnostik tunggal. 2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Abdomen USG merupakan metode non invasif yang paling sering digunakan untuk mendeteksi perlemakan hati yang ditandai dengan gambaran hati hiperekoik (perlemakan hati) dimana jaringan hati lebih padat karena penumpukan lemak dibandingkan jaringan normal. Namun, sensitivitasnya terbatas pada tahap awal penyakit. 3. Biopsi Hati Hingga saat ini, biopsi hati masih dianggap sebagai standar baku (gold standard) untuk membedakan perlemakan hati sederhana dengan NASH. Meskipun demikian, prosedur ini bersifat invasif sehingga penggunaanya terbatas pada indikasi klinis tertentu.
NAFLD dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala, namun berisiko menimbulkan kerusakan hati yang serius. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk evaluasi SGOT, SGPT, USG, dan Medical Check-Up, berperan penting dalam mendeteksi kondisi ini sejak dini sebelum berkembang menjadi komplikasi. Kimia Farma Laboratorium & Klinik menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan untuk membantu melakukan deteksi dini secara profesional, nyaman, dan terpercaya, sebagai langkah strategis dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara berkelanjutan.
| Mitos | Fakta |
| Fatty liver hanya terjadi pada peminum alkohol. | NAFLD terjadi pada individu yang mengonsumsi sedikit atau bahkan tidak mengonsumsi alkohol sama sekali. Kondisi ini lebih erat kaitannya dengan obesitas, resistensi insulin, dan gangguan metabolik. |
| Jika tidak ada gejala, berarti hati dalam kondisi sehat. | Sebagian besar penderita NAFLD tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Kerusakan hati dapat tetap berlangsung meskipun tanpa keluhan klinis yang jelas. |
| Hanya orang obesitas yang bisa terkena NAFLD. | NAFLD juga dapat terjadi pada individu dengan berat badan normal, terutama yang memiliki gangguan metabolik atau lemak visceral berlebih. |
Referensi
- Polyzos, S. A. (2019). Obesity and nonalcoholic fatty liver disease: From pathophysiology to therapeutics. Metabolism Clinical and Experimental, 92(82-97). https://doi-org.unpad.idm.oclc.org/10.1016/j.metabol.2018.11.014
- Sahu, P., Chhabra, P., & Mehendale, A. M. (2023, August 12). A Comprehensive Review on Non-Alcoholic Fatty Liver Disease. Cureus Journal of Medical Science. DOI 10.7759/cureus.50159


