Kimia Farma Laboratorium & Klinik
✨🍴Di sini ada Tongseng, Rawon, Empal dan Gulai yang dijamin SEHAT 🍲🥩😋
Di Balik Sensasi Pedas ada Risiko Kesehatan yang Mengintai
- Kimia Farma Laboratorium & Klinik
- Iritasi Lambung dan Gastritis
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau bahan iritasi lain. Paparan capsaicin yang tinggi dapat meningkatkan sensasi terbakar dan produksi asam lambung dan yang akan mengiritasi lapisan mukosa lambung. Kondisi ini berisiko menyebabkan gastritis dengan gejala berupa nyeri ulu hati, perut terasa perih, mual, hingga muntah. Bagi yang memiliki riwayat maag, konsumsi makanan pedas berlebihan dapat memperparah keluhan dan memicu kekambuhan.
- Penyakit Asam Lambung dan Refleks (GERD)
GERD Adalah mekanisme refleks melalui sfingter esofagus. Rasa panas dan terbakar di retrosternal atau epigastric dapat menjalar ke leher disertai muntah, atau timbul rasa asam di mulut.
Capsaicin dapat memicu relaksasi sfingter esofagus bagian bawah, sehingga asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Akibatnya, muncul sensasi panas di dada (heartburn), rasa asam di mulut, serta ketidaknyamanan setelah makan. Jika terjadi berulang, kondisi ini dapat berkembang menjadi gastroesophageal reflux disease (GERD).
- Gangguan Usus dan Diare
Diare adalah kondisi ketika seseorang mengalami buang air besar (BAB) dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (≥3 kali sehari) dengan konsistensi feses yang cair atau lembek. Diare dapat berlangsung akut (jangka pendek) maupun kronis (lebih dari 14 hari).
Cabai dapat mempercepat pergerakan usus dan meningkatkan sensitivitas saluran pencernaan. Pada sebagian orang, hal ini menimbulkan diare, kram perut, serta sensasi panas saat buang air besar. Penderita sindrom iritasi usus besar (IBS) umumnya mengalami keluhan yang lebih berat dibandingkan individu tanpa gangguan pencernaan.
- Respons Sistemik pada Konsumsi Ekstrem
Respons sistemik adalah reaksi tubuh secara menyeluruh akibat paparan suatu zat dalam jumlah besar. Dalam konteks makanan pedas, konsumsi capsaicin dalam jumlah ekstrem dapat memicu berbagai respon fisiologis yang tidak hanya terbatas pada sistem pencernaan, tetapi juga sistem saraf, kardiovaskular, dan metabolik, seperti keringat dingin, pusing, perubahan tekanan darah, hingga muntah hebat. Dalam kasus tertentu, kondisi ini memerlukan penanganan medis.
Mitos Fakta Di Balik Sensasi Pedas ada Risiko Kesehatan| Mitos | Fakta |
| Makanan pedas selalu merusak lambung | Dalam jumlah berlebihan, makanan pedas memang dapat mengiritasi lambung dan memicu keluhan seperti nyeri ulu hati. Namun, dalam dosis yang terkontrol, capsaicin justru memiliki efek protektif dengan membantu menjaga lapisan mukosa lambung dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab tukak lambung. |
| Minum air putih adalah cara terbaik menghilangkan rasa pedas | Capsaicin bersifat larut dalam lemak, bukan air. Oleh karena itu, minum air putih sering kali tidak efektif meredakan rasa pedas. Konsumsi makanan atau minuman berlemak seperti susu justru lebih membantu menetralisir sensasi pedas. |
| Semakin sering makan pedas, semakin berbahaya bagi tubuh | Dampak cabai sangat bergantung pada jumlah dan frekuensi mengonsumsinya. Mengonsumsi cabai dalam batas wajar dapat memberikan manfaat, sementara konsumsi berlebihan dan terus-menerus berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran cerna. |
Referensi
- Brown, J. (2024, June 24). Capsaicin: The kick from your chilli can have side effects. BBC. https://www.bbc.com/future/article/20240621-capsaicin-the-kick-from-your-chilli-can-have-side-effects
- Fattori, V., Hohmann, M. S. N., Rossaneis, A. C., Pinho-Ribeiro, F. A., & Verri Jr., W. A. (2016). Capsaicin: Current Understanding of Its Mechanisms and Therapy of Pain and Other Pre-Clinical and Clinical Uses. molecules. doi:10.3390/molecules21070844
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama


