Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Bukan Demam dan Nyeri Sendi Biasa: Ayo Kenali dan Cegah Chikungunya

Apa itu Chikungunya?

Chikungunya merupakan penyakit yang berasal dari daerah tropis yang ditularkan kepada manusia melalui artropoda seperti gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang terinfeksi. Dalam beberapa dekade terakhir ini, virus chikungunya (CHIKV) telah menyebar luas hingga lebih dari 60 negara di seluruh dunia, yang menyebabkan salah satu dari ancaman kesehatan global yang baru perlu diwaspadai. Kemenkes menunjukkan bahwa pada tahun 2019, tercatat demam chikungunya sebanyak 5.042 kasus. Dari kasus tersebut, sebanyak 1.044 kasus terjadi di Provinsi Jawa Barat, disusul Lampung dengan 829 kasus, dan Gorontalo dengan 534 kasus. Sementara itu, data dari WHO, sepanjang 2019 penyakit ini telah terjadi lebih dari 1,9 juta kasus di Asia. CHIKV dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan dan menyebabkan artritis/artralgia kronis yang melemahkan hingga 40% dari penderitanya, sehingga membutuhkan diagnosis serta penanganan segera.

Sekitar 40% komplikasi tersering chikungunya adalah chronic arthritis (nyeri sendi berkepanjangan) dan chronic fatigue (kelelahan berkepanjangan). Bahkan, joint pain masih bisa dirasakan hingga berbulan-bulan setelah infeksi awal. Hal ini penting untuk diwaspadai, karena banyak penderita chikungunya merasa kualitas hidupnya menurun akibat nyeri sendi dan rasa letih yang tak kunjung hilang.

Meski jarang, infeksi Chikungunya Virus (CHIKV) juga dapat dikaitkan dengan gangguan pada central nervous system (CNS), terutama kondisi seperti myelitis (radang pada sumsum tulang belakang). Sebaliknya, Zika Virus (ZIKV) lebih sering menimbulkan gangguan pada peripheral nervous system (PNS), seperti Guillain–Barré syndrome yang menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan sementara. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan neurologis pada pasien yang terinfeksi CHIKV.

Gejala Chikungunya

Pada beberapa kasus, gejala chikungunya biasanya muncul dalam waktu 3 hingga 7 hari setelah tergigit nyamuk yang terinfeksi. Meskipun demikian, sebagian orang bisa saja tidak menunjukkan gejala sama sekali. Orang yang terinfeksi dapat mengalami beberapa gejala seperti:
  • Demam tinggi hingga 39°C
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Tubuh terasa lelah dan lemas
  • Ruam kemerahan
  • Sakit kepala
  • Mual dan tidak enak badan
Pada umumnya, gejala di atas akan membaik dalam waktu satu minggu. Namun, pada sebagian kasus, nyeri sendi dapat berlangsung hingga berbulan-bulan. Selain itu, meski sangat jarang, gejala berat yang dapat muncul pada penderita chikungunya juga bisa menyebabkan kelumpuhan sementara.

Siapa saja yang berisiko terinfeksi?

Penyakit Chikungunya dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi terserang penyakit, seperti:
  • Bayi baru lahir
  • Lansia berusia di atas 65 tahun
  • Penderita dengan kondisi kronis, seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung

Vaksinasi Chikungunya

Menurut data CDC (Centers for Disease Control and Prevention), sebuah lembaga Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit milik Amerika Serikat, menyebutkan bahwa saat ini terdapat dua vaksin chikungunya IXCHI dan VIMKUNYA yang telah mendapat persetujuan regulasi dan direkomendasikan untuk digunakan pada kelompok yang rentan terhadap infeksi. Namun, kedua vaksin ini hanya tersedia di Amerika Serikat dan belum didistribusikan secara luas di negara lain. 

Mitos vs. Fakta Tentang Chikungunya

Mitos Fakta
Chikungunya menyebabkan gejala berat dan berkepanjangan. Sebagian besar penderita mengalami gejala ringan hingga sedang yang membaik dalam waktu satu minggu, walau nyeri sendi bisa berlangsung lama.
Orang yang terinfeksi chikungunya akan menunjukkan gejala. Tidak semua orang terinfeksi chikungunya menunjukkan gejala, sebagian bisa asimtomatik.
Vaksin chikungunya sudah tersedia luas di seluruh dunia. Saat ini vaksin hanya tersedia di negara tertentu, seperti Amerika Serikat, dan belum tersedia di Indonesia.
Chikungunya hanya menyerang anak-anak dan orang tua. Chikungunya memang lebih sering menyerang anak anak dan orang tua, namun bayi, lansia, dan pasien dengan penyakit kronis juga bisa terinfeksi dengan risiko yang lebih tinggi.
Nyamuk Aedes aegypti hanya aktif di siang dan malam hari. Nyamuk Aedes aegypti dapat menggigit kapan saja, terutama pagi dan sore hari, khususnya di lingkungan yang lembap.
 

Segera tangani Chikungunya

Jika seseorang terkena Chikungunya, penanganan yang dapat dilakukan untuk meredakan gejala adalah dengan beristirahat yang cukup, dan minum banyak cairan. Untuk penanganan secara klinis, seperti demam dan nyeri sendi dianjurkan dengan pemberian antipiretik (penurun panas) dan analgesik (pereda nyeri) secara maksimal. Hingga saat ini, pengobatan antivirus khusus untuk infeksi CHIKV belum tersedia. Hindari penggunaan obat-obatan anti inflamasi (NSAID seperti ibuprofen) sebelum infeksi dengue disingkirkan karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Oleh karena itu, apabila seseorang mengalami gejala chikungunya seperti demam tinggi secara mendadak, nyeri otot dan sendi, dan ruam pada kulit, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat atau berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat secara dini.

Kapan Harus ke Dokter? Yuk, Periksa ke Klinik Kimia Farma!

Meskipun vaksin chikungunya saat ini belum tersedia di Indonesia, kamu tetap bisa melakukan tindakan preventif melalui konsultasi dan pemeriksaan medis jika mengalami gejala yang mirip chikungunya. Jangan tunggu sampai nyeri sendi atau demam semakin parah. Kalau kamu mengalami demam mendadak, nyeri otot atau sendi, atau ruam, segera kunjungi Klinik Kimia Farma terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan yang akurat dan saran penanganan dari tenaga medis profesional.

🦟 Waspadai Chikungunya, Jangan abaikan gejalanya!

  • Centers for Disease Control and Prevention. (2023, October 13). Chikungunya vaccines. https://www.cdc.gov/chikungunya/vaccines/index.html
  • de Lima Cavalcanti, T. Y. V., Pereira, M. R., de Paula, S. O., & Franca, R. F. d. O. (2022). A review on Chikungunya virus epidemiology, pathogenesis and current vaccine development. Viruses, 14(5), 969. https://doi.org/10.3390/v14050969
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, Agustus 22). Chikungunya. Kementerian Kesehatan RI.  https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1401/chikungunya
  • Webb, E. Sigfrid, L. (2022, Desember). An evaluation of global Chikungunya clinical management guidelines: A systematic review. EclinicalMedicine, 54, 101672. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2022.101672
  • World Health Organization. (2025, April 14). Penyakit Chikungunya. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chikungunya

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group