Kimia Farma Laboratorium & Klinik

Banyak Ibu Hamil Fokus USG, Tapi Justru Lupa Pemeriksaan yang Satu Ini.

Menantikan kehadiran buah hati adalah momen yang penuh kebahagiaan sekaligus harapan bagi setiap keluarga, terutama bagi pasangan yang telah lama menunggu dua garis biru pada test pack. Namun, perjalanan kehamilan tidak hanya tentang menyambut calon buah hati, tetapi juga memastikan bahwa ibu dan janin tetap sehat hingga waktu persalinan tiba. Salah satu langkah penting yang tidak boleh dilewatkan adalah menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin, termasuk pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian penting dari pelayanan Antenatal Care (ANC) yang bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan ibu hamil sejak dini. Melalui berbagai pemeriksaan, tenaga medis dapat mendeteksi adanya faktor risiko maupun komplikasi kehamilan, seperti anemia, diabetes gestasional, infeksi, gangguan fungsi organ, hingga kondisi lain yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu maupun tumbuh kembang janin. Dengan deteksi dini, penanganan dapat segera diberikan sehingga risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan dapat diminimalkan.
Berapa banyak kasus ini terjadi di Indonesia? 
Salah satu kondisi yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah ibu hamil yang menderita anemia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, terdapat 27,7 % ibu hamil di Indonesia yang mengalami anemia. Walaupun angka ini mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2018 yang sempat mencapai angka 48,9%. Jika tidak ditangani, anemia pada kehamilan dapat meningkatkan risiko kehilangan prematur, Berat badan lahir rendah, bahkan berdampak pada tumbuh kembang janin baik selama di kandungan maupun setelah lahir.
Selain anemia, pemeriksaan urine juga menjadi bagian penting dari rangkaian pemeriksaan laboratorium kehamilan, salah satunya adalah untuk mengecek kadar glukosa. Urine yang normal seharusnya tidak mengandung glukosa, sehingga jika glukosa terdeteksi, ini bisa menjadi tanda awal dari adanya komplikasi diabetes gestasional. Kondisi yang jika tak terdeteksi dapat mempengaruhi kesehatan sang ibu maupun janin.
Kasus tersebut sebagai tolak ukur bahwa pemeriksaan laboratorium kehamilan bukan sekadar prosedur tambahan, melainkan digunakan sebagai garda terdepan untuk mengatasi risiko sebelum menjadi komplikasi yang serius. Lalu apa saja sebenarnya jenis pemeriksaan yang perlu dilakukan, dan kapan waktu yang terbaik untuk melakukannya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Jenis-Jenis Pemeriksaan Laboratorium yang harus  dilakukan oleh Ibu Hamil:
Berikut adalah jenis-jenis pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan oleh ibu hamil:
1. Pemeriksaan Darah Rutin
Pemeriksaan darah adalah salah satu pemeriksaan yang paling awal dilakukan, biasanya pada trimester pertama.
  • Golongan Darah dan Rhesus: Penting untuk mengantisipasi kebutuhan transfusi mendadak dan mendeteksi ketidakcocokan rhesus antara ibu dan janin yang bisa membahayakan kehamilan.
  • Hemoglobin (Hb): Dilakukan untuk mendeteksi anemia (defisiensi sel darah merah atau hemoglobin). Kadar Hb normal minimal adalah 11 g/dL pada trimester 1 dan 3, serta 10,5 g/dL pada trimester 2.
2. Triple Eliminasi (Wajib Program Pemerintah) Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi penyakit menular yang dapat ditularkan ke janin dan merupakan program wajib dari pemerintah dalam pelayanan Antenatal Care (ANC) Terpadu.
  • HBsAg (Hepatitis B): Mendeteksi infeksi hepatitis B yang berisiko ditularkan ke bayi saat persalinan.
  • HIV: Pemeriksaan untuk mencegah penularan virus dari ibu ke anak.
  • Sifilis (VDRL/RPR): Mendeteksi infeksi sifilis guna mencegah kegagalan organ atau kematian pada janin.
3. Pemeriksaan Urine (Urinalisis) Pemeriksaan urine dilakukan secara rutin di setiap kunjungan dokter untuk memantau beberapa kondisi:
  • Protein Urine: Indikasi awal adanya pre-eklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan) jika kadarnya tinggi.
  • Glukosa Urine: Untuk mendeteksi tanda-tanda diabetes gestasional.
  • Bakteri/Sedimen: Mendeteksi adanya Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang sering tidak bergejala pada ibu hamil.
4. Pemeriksaan Gula Darah Pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi diabetes gestasional yang dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Biasanya dilakukan melalui tes gula darah puasa dan tes toleransi glukosa, terutama pada usia kehamilan 24–28 minggu.
5. Skrining Infeksi Lainnya
  • Pemeriksaan TORCH: Mendeteksi infeksi Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simplex yang dapat menyebabkan cacat janin atau keguguran.
  • Streptococcus Grup B (GBS): Dilakukan pada minggu ke-35 hingga 37 untuk mendeteksi bakteri yang bisa menyebabkan infeksi serius pada bayi saat lahir.
6. Tes Genetik dan Penapisan Lanjutan
  • NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing): pemeriksaan genetik canggih melalui sampel darah ibu untuk mendeteksi risiko kelainan kromosom seperti Down syndrome, Edward syndrome, dan Patau syndrome sejak usia kehamilan 10 minggu.
  • Fungsi Tiroid (TSH): Untuk memastikan hormon gondok (tiroid) ibu berfungsi baik karena berpengaruh pada perkembangan otak janin.
Selain pemeriksaan laboratorium di atas, ibu hamil juga diwajibkan menjalani Ultrasonografi (USG) minimal 3 kali selama masa kehamilan untuk memantau pertumbuhan organ janin, posisi plasenta, dan jumlah air ketuban
Jadwal dan pemeriksaan kehamilan pada setiap trimester :
Pemeriksaan laboratorium untuk ibu hamil adalah bagian penting dari perawatan kehamilan yang bertujuan memastikan kesehatan ibu dan janin. Pemeriksaan ini dilakukan secara bertahap sejak awal kehamilan hingga trimester ketiga. Yuk, simak lebih lengkap kapan saja pemeriksaan ini perlu dilakukan!
Kunjungan  Usia Kehamilan  Perkembangan Janin 
Trimester 1  1-13 Minggu Selama trimester kehamilan ini, embrio di dalam kandungan mengalami perkembangan awal pada organ-organ dasar, seperti otak, jantung, dan sistem saraf pusat. Selain itu, selama trimester ini, berat embrio mencapai 200–400 gram dan panjangnya mencapai 7–10 sentimeter.
Trimester 2 13 – 28 Minggu Pada trimester kedua ini, embrio sudah menjadi janin. Berat janin selama trimester kehamilan ini berkisar antara 1.000–1.300 gram dan panjangnya mencapai 30-40 cm. Bumil juga bisa mengetahui jenis kelamin janin dan melihat pergerakannya melalui  pemeriksaan USG.
Trimester 3  25 – 36 Minggu Sementara itu, pada trimester ini, berat badan janin berkisar antara 1.370–3.600 gram dengan panjang sekitar 48 cm. Selain itu, tubuh dan organ janin mulai terbentuk sempurna, peka terhadap sentuhan atau cahaya, dan kepala janin menghadap ke bawah dekat jalan lahir. Pada trimester ketiga, dokter akan menyarankan pemeriksaan kandungan lebih sering yaitu lebih dari 2 kali pertemuan.
Risiko Jika Pemeriksaan Laboratorium Terlewat Mengabaikan atau melewatkan pemeriksaan laboratorium meningkatkan risiko tidak terdeteksinya “silent diseases” (penyakit tanpa gejala fisik yang nyata). Dampaknya meliputi:
  • Komplikasi Janin: Infeksi yang tidak terdeteksi (seperti Sifilis atau TORCH) dapat menyebabkan kegagalan organ pada janin, cacat bawaan, hingga keguguran.
  • Risiko pada Ibu: Pre-eklampsia yang tidak terdeteksi melalui pemeriksaan protein urine rutin dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa ibu. Selain itu, anemia yang tidak tertangani meningkatkan risiko perdarahan hebat saat persalinan.
  • Gangguan Pertumbuhan: Kondisi seperti diabetes gestasional atau gangguan gondok (tiroid) yang tidak terpantau dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah atau justru terlalu besar (makrosomia).
Langkah yang Dapat Dilakukan Jika Terlewat
1. Segera Jadwalkan Ulang (Catch-up Testing): Meskipun terlewat dari jadwal trimester yang seharusnya, beberapa pemeriksaan tetap krusial untuk dilakukan sesegera mungkin. Misalnya, pemeriksaan Triple Eliminasi (HIV, Sifilis, Hepatitis B) dan Hemoglobin (Hb) harus tetap dilakukan untuk memastikan keamanan proses persalinan.
2. Identifikasi Usia Kehamilan Saat Ini: Dokter akan menyesuaikan jenis pemeriksaan yang paling relevan dengan usia kehamilan Anda sekarang. Contohnya, jika Anda sudah memasuki minggu ke-35, pemeriksaan Streptococcus Grup B (GBS) menjadi prioritas utama untuk mencegah infeksi pada bayi saat lahir.
3. Lakukan Pemeriksaan Fisik dan USG: Selain pemeriksaan darah dan urine, lakukan USG untuk memantau posisi plasenta, jumlah cairan ketuban, dan perkembangan organ janin yang mungkin terlewat di trimester sebelumnya.
4. Pantau Tanda Bahaya (Red Flags): Sambil menunggu hasil laboratorium yang terlambat, Anda harus sangat waspada terhadap gejala fisik seperti pusing berputar, nyeri saat buang air kecil, atau keputihan yang berbau, dan segera ke IGD jika terjadi perdarahan.
5. Ikuti Terapi Medis Segera: Jika hasil pemeriksaan yang terlambat menunjukkan nilai tidak normal (misalnya positif infeksi saluran kemih atau anemia), segera ikuti pengobatan atau suplemen yang diresepkan dokter untuk mengejar ketertinggalan kondisi kesehatan.
6. Pencegahan Mandiri di Rumah: Tetap penuhi asupan asam folat, konsumsi makanan bergizi tinggi zat besi, cukupi kebutuhan air putih, serta hindari makanan mentah untuk meminimalkan risiko infeksi parasit seperti Toxoplasma. 
Manfaat pemeriksaan laboratorium kehamilan :
Pemeriksaan laboratorium selama kehamilan merupakan bagian krusial dari perawatan antenatal (antenatal care) yang bertujuan untuk memastikan kesehatan ibu dan janin serta mendeteksi dini adanya komplikasi. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai urgensi pemeriksaan tersebut dan konsekuensi yang mungkin terjadi jika pemeriksaan tersebut terlewat atau terlambat dilakukan:
1. Mendeteksi penyakit lebih dini
Dokter dapat memantau kesehatan janin dengan lebih baik melalui pemeriksan laboratorium kehamilan. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan darah dapat mengungkapkan informasi tentang kesehatan janin, seperti kadar oksigen dan nutrisi yang janin peroleh. Pemeriksaan laboratorium kehamilan juga dapat mendeteksi ketidaknormalan yang memerlukan tindakan medis segera mungkin, sehingga dapat mencegah terjadinya potensi komplikasi.
2. Menentukan pengobatan yang tepat
Bila ditemukan adanya penyakit tertentu dari hasil laboratorium, dokter akan lebih mudah menentukan pengobatan yang tepat. Sebaliknya, penyakit yang tidak terdeteksi selama kehamilan dapat memicu komplikasi berbahaya. Ini tidak hanya berisiko bagi ibu, tetapi juga pada janin dalam kandungan.
3. Melindungi janin dari penyakit berbahaya
Melalui pemeriksaan ini juga, dokter bisa mendeteksi adanya penyakit atau infeksi yang bisa mempengaruhi ibu dan janin, seperti hepatitis B, sifilis, dan HIV. Pemeriksaan ini bisa memeriksa adanya kemungkinan ibu memiliki risiko kesehatan tertentu yang dapat menurun ke anak. Informasi mengenai ini dapat membantu dokter mencegah masalah kesehatan tersebut sampai berkembang dan mengganggu kondisi janin.
4. Memberikan ketenangan kepada orang tua
Ada banyak pemeriksaan yang akan dilakukan selama pemeriksaan laboratorium kehamilan. Informasi mengenai update kesehatan ini akan membantu ibu untuk dapat menjalani kehamilan dengan lebih tenang. Pada akhirnya ibu dan ayah dapat mempersiapkan persalinan secara maksimal.
Mitos Fakta
Mitos Fakta
Sebelum pemeriksaan laboratorium kehamilan tidak harus puasa dulu? Untuk paket pemeriksaan dasar (darah rutin, urine, dan triple eliminasi) tidak diwajibkan untuk  puasa. Namun, jika dokter mencurigai adanya masalah metabolisme dan meminta tes Gula Darah Puasa (GDP), maka dokter akan meminta pasien untuk berpuasa 10-12 jam sebelum pengambilan darah.
USG saja sudah cukup untuk memantau kondisi kehamilan, pemeriksaan laboratorium tidak perlu. USG dan pemeriksaan laboratorium memiliki fungsi yang saling melengkapi. USG digunakan untuk melihat perkembangan fisik dan posisi janin, sementara pemeriksaan laboratorium menganalisis komposisi darah dan urine untuk mendeteksi infeksi menular, diabetes, dan kelainan darah yang tidak bisa dilihat lewat USG.
Perut ibu hamil yang besar menandakan bentuk janin besar Besar kecilnya perut tidak mempengaruhi ukuran bayi dikarenakan setiap ibu memiliki kondisi dan tubuh yang berbeda.
 

Gabung Whatapps Group

Gabung Whatsapp Group

 

Gabung Whatsapp Group

Gabung Whatsapp Group